GLOMERULONEPHRITIS PADA ANJING DAN KUCING

Glomerulonephritis (GN) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan adanya proliferasi sel glomerulus dan penebalan dinding kapiler glomerulus.

Penyebab utama GN adalah adanya kompleks imun dalam glomerulus. Proteinuria merupakan gejala patologi klinis utama yang merupakan pertanda adanya GN. Diagnosa definitive tentang GN harus melalui biopsy ginjal. Penggunaan pemeriksaan serial dari rasio protein : kreatinin secara kuantitatif akan mempermudah diagnosa definitive dan penentuan treatment untuk GN (Anonim a, 2000)



Tujuan dari penanganan terhadap GN adalah :
1.Identifikasi dan eliminasi penyebab utama yang menyebabkan adanya pembentukan kompleks imun dalam glomerulus.
2.Menekan respon imun
3.mengurangi respon glomerulus terhadap respon imunologis yang terjadi.
Tanpa adanya penanganan yang tepat GN dapat menyebabkan timbulnya kerusakan yang irreversible terhadap glomerulus karena adanya deposisi fibrin dan glomerulosklerosis. Kerusakan glomerulus yang irreversible akan menyebabkan timbulnya banyak nephron yang tidak fungsional dan menyebabkan insufisiensi dan kegagalan fungsi ginjal (Anonim a, 2000)
Beberapa kasus infeksi dapat menyebabkan timbulnya deposisi glomerulus pada ginjal serta pembentukan kompleks imun pada anjing dan kucing.


Skema terbentuknya kompleks imun pada kasus GN (Anonim c, 2000)

Pada anjing dapat disebabkan oleh agen infeksius (brucellosis, dirofilariasis, erlhichiosis, Rocky Mountain Spotted Fever, borreliosis), neoplasia dan inflamasi (pankreatitis, systemic lupus eritrematous, polyarthritis, prostatitis). Nephritis herediter termasuk kelainan genetic dari membrane dasar kolagen yang menyebabkan timbulnya penyakit glomerulus yang progresif. Glomerulonephropathy secara keturunan banyak terjadi pada jenis-jenis anjing Samoyeds, bull terrier, English cocker spaniels, Bernese mountain dogs, Doberman pinschers, rottweilers, soft coated wheaten terriers, Newfoundland, sharpers dan beagles. Hampir semua anjing yang menderita penyakit ini dari puppy akan memperlihatkan gejala proteinuria, sehingga adanya pemeriksaan protein dari puppy dapat digunakan untuk screening awal data kesehatan organ ginjal anjing-anjing tersebut (Anonim a, 2000)
Pada kucing dapat disebabkan karena virus feline leukemia, feline infectious peritonitis virus, dan mycoplasma polyarthritis. Neoplasia, keradangan (pankreatitis, chronic skin disease, immune-mediated disease) dan adanya keturunan penderita juga berperan pada kucing.
Pada anjing dan kucing adanya diabetes mellitus menyertai kejadian GN sering terjadi tetapi hubungan keduanya masih menjadi pertanyaan yang belum bias terjawab. Demikian juga kadang terjadi penyebab utama dari GN tidak dapat ditemukan sehingga penyebabnya diasumsikan karena factor idiophatic.
Gejala klinis
Seringkali tidak ada gejala klinis yang menyertai kejadian GN. Jika terjadi kerusakan hingga ¾ dari keseluruhan glomerulus ginjal maka gagal ginjal, azotemia, polidipsia, poliuria, anoreksia, nausea dan muntah dapat terjadi. Jika kejadian proteinuria demikian parah dan persisten (serum albumin<> 0.8 dan pada kucing > 0.7 merupakan tanda-tanda abnormalitas pada species tersebut meskipun diagnosa pasti GN baru dapt ditegakkan jika P:C 3,5 atau lebih besar.
Hipoalbuminemia terjadi pada anjing dan kucing yang mengalami GN. Sebagai contoh level albumin <>75% kerusakan ginjal). Isostenuria berhubungan dengan diuresis atau disfungsi ginjal tubuler. Bentukan kristal hyaline dan granuler dapat juga dijumpai pada sediment urin (Anonim a, 2000)
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan darah (CBC), level biokima darah, urinalysis, perbandingan P:C urin, kultur urin, pemeriksaan tekanan darah, ultrasonografi dan radiografi abdomen. Identifikasi penyakit penyebab primer sangat penting untuk diketahui. Diagnosa definitive tentang GN harus melalui biopsy ginjal. Dengan hasil biopsy ginjal dapat diketahui penyakit penyebabnya dan menentukan langkah-langkah treatment yang harus diambil beradasarkan definitive diagnosa. Untuk melakukan langkah – langkah biopsy perlu pemeriksaan dulu terhadap waktu beku darah dan juga koagulasi darah (Anonim a, 2000)

Treatment
Keberhasilan penanganan sangat ditentukan oleh identifikasi penyakit penyebab GN, identifikasi masalah dan manajemen medis yang dilakukan.
Manajemen medis yang dilakukan termasuk didalamnya adalah therapy immunosupresi (cyclophosphamide, azathioprine, chlorambucil, or cyclosporine):treatment antiinflamasi-hyperkoagulasi (aspirin), control diet ( pembatasan intake sodium ) ; antihipertensi (enalapril, amlopidine), dan obat diuretic. Langkah pengambilan jaringan ginjal seharusnya dilakukan sebelum pengobatan dengan menggunakan obat-obat immunosupresive. Penelitian menunjukkan adanya effect penggunaan cyclosporine pada anjing dengan gejala terkena idiophatic GN, tetapi tidak berperan dalam mengurangi gejala proteinuria (Anonim a, 2000)
Penggunaan corticosteroid merupakan kontradikasi bagi anjing dengan penyakit GN ini kecuali jika penyebab utamanya adalah karena penyakit yang berespon terhadap pemberian steroid misalnya systemic lupus. Penelitian menunjukkan penggunaan kortikosteroid akan menyebabkan keparahan proteinuria dan meningkatkan azotemia. Jika dalam pengobatan dilakukan terapi immunosupressif maka harus dilakukan monitoring terhadap ratio P:C urin paling sedikit sekali selama sebulan untuk mengetahui effect pengobatan. Jika terjadi kondisi yang memburuk maka pengobatan menggunakan agen immunosupresif harus dihentikan segera.
Pengamatan tentang GN menunjukkan bahwa platelet dan tromboxane berperan dalam patogenesis dari GN. Beberapa experiment menunjukkan adanya perubahan yang baik pada penggunaan obat-obat antiplatelet misalnya aspirin. Jika anjing menunjukkan konsentrasi antithrombin III <70%>300 mg/dl dapat dilakukan terapi menggunakan antikoagulan. Obat-obat antiplatelet, heparin dan coumadin banyak digunakan disini. Pemberian aspirin dosis rendah (0,25 mg/ lb PO dua kali sehari) terbukti dapat mengurangi timbunan platelet dalam ginjal dan mengurangi hiperkoagulasi. Pada kucing penggunaan antiplatelet jarang digunakan karena jarang dijumpai adanya kasus thromboembolisme pada kucing (Anonim a, 2000)
Treatment dengan menggunakan enalapril mengurangi proteinuria, mengembalikan fungsi ginjal, dan memperpanjang umur anjing yang terkena GN karena factor genetic misalnya pada anjing-anjing Samoyed. Direkomendasikan pula untuk melakukan pengobatan dengan menggunakan pembatasan asupan sodium. Diet protein juga dapat meningkatkan efisiensi treatment menggunakan enalapril dan disarankan digunakan untuk menurunkan tingkat filtrasi glomeruler yang tinggi dan reksi non imun dari ginjal. Anjing dan kucing yang terkena edema dan ascites karena GN harus istirahat kandang dan diet sodium. Paracentesis dapat dilakukan jika hewan mengalami tekanan respirasi dan abdomen yang membengkak. Penggunaan diuretik yng berlebihan dapat menyebabkan timbulnya dehidrasi dan dekompensasi ginjal akut. Transfusi plasma dapat dilakukan tetapi hanya bersifat sementara.



Postinfectious Glomerulonephritis ( Anonim b, 2006)

Monitor terhadap perbandingan P:C urin harus dilakukan selama proses terapi. Jika proteinuria bertambah parah maka terapi dapat diganti atau dihentikan. Serum kreatinin dan BUN dalam darah juga harus selalu diperiksa. Harus diperhatikan pula jika telah terjadi penurunan tingkat filtrasi ginjal bisa jadi proteinuria juga berkurang. Prognosis penderita GN biasanya infausta, meskipun diagnosa awal dan pengobatan segera dapat digunakan untuk memperpanjang kehidupan pasien.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GLOMERULONEPHRITIS PADA ANJING DAN KUCING"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.