.

.

INFERTILITAS KARENA FAKTOR GENETIK PADA SAPI

Infertilitas yang disebabkan oleh factor congenital seringkali banyak dijumpai. Termasuk abnormalitas ini adalah abnormalitas dalm pembentukan ovarium, oviduk, uterus, cervix, vagina dan vulva. Beberapa diantaranya bersifat letal, beberapa bersifat gangguan dalam fungsional dan morfologi. Kondisi morfologi yang sering dijumpai adalah hipoplasia dan aplasia ovarium, anomaly pada organ genitalia tubuler, hermafrodit, freemartin, White heifer disease dan doble servix (Lagerlof, 1963). Beberapa abnormalitas ini dijumpai pada ternak jenis zebu by Perkins et al (1954), Kodagali (1974), Chenna (1980) and Kumi-Diaka et al (1981). Hal ini berakibat beberapa diantara ternak tersebut mengalami program culling (Buergelt, 1999).

Sekitar 5238 pemotongan ternak yang tidak bunting terjadi di Brazil, 17.27% mengalami problem pada kasus-kasus genital seperti agenesis, atrophy, hypoplasia and tumours (Vale et al, 1984). Aplasia segmental dari Fallopian tubes and uterus, abnormalitas dari servix dan kelainan dari perkembangan duktus mulleri juga ditemukan dalam penelitian Basile and Megale (1974) diantara 6054 sapi dan ternak ternak di America selatan. Kumi-Diaka et al (1981) menemukan anestrus dan abnormalitas genetic 22.7% dari 3000 sapi di Nigeria, 9.7% hypoplasia ditemukan diantara 889 sapi yang diperiksa selama 6 tahun di Southern Kartanaka, India (Hussein and Muniraju, 1984) (Buergelt, 1999).
Hipoplasi gonad pada sapi tidak mudak untuk didiagnosa (Lagerlof, 1963) dan pada kasus hipoplasia ovarium bilateral biasanya tidak menunjukkan karakter perkembangan seksual sekunder. Biasanya mereka anestrus dan infertil. Jika kelainan bersifat unilateral maka organ seksual normal bias ditemukan dan aktivitas estrus dapat dijumpai. Biasanya mereka normal tetapi fertilitasnya jauh dibawah hewan yang organnya normal. Kondisi tersebut dapat disebabkan karena gen resessif yang muncul atau karena kegagalan proses meiosis dalam pertukaran genetik sehingga untuk menghindari kasus-kasus seperti ini perlu digunakan induk-induk yang benar-benar bagua secara genetik sebagai breeding stock (Buergelt, 1999).
Faktor genetik (keturunan) yaitu suatu sifat kebapakan yang berasal dari bapak atau ibu yang menurun kepada anak. Bila manifestasinya pada alat kelamin, mempunyai peranan dalam menimbulkan kemajiran pada ternak. Factor ini bila muncul pada alat kelamin, akan tampak dalam bentuk kelainan anatomi. Kelainan anatomi yang bersifat menurun ini umumnya disebabkan oleh kelainan pada kromosom kelamin (sex Chromosome) atau adanya kelainan satu gen yang resesif pada autosomnya. Ada yang mempengaruhi satu jenis kelamin saja, tetapi dapat pula maempengaruhi kedua jenis kelamin. Tergantung kepada berat tidaknya kelainan anatomi yang bersifat menurun pada alat kelamin tersebut, gangguan anatomi dapat mudah dikenali sejak awal periode reproduksi, dapat pula baru dijumpai setelah umur tua atau setelah menghasilkan banyak keturunan (Hardjopranjoto, S.1995).
Ada beberapa factor yang dapat memperberat terjadinya kelainan genetiuk pada alat kelamin, seperti bangsa ternak, lokasi geografis dari peternakan, musim, jenis kelamin, umur induk, dan beberapa macam zat bersifat racun yang masuk dalam tubuh melalui pakan. Factor genetic yang menimbulkan kemajiran mencapai 0,2-3% dari seluruh kasus kemajiran yang dilaporkan. Kelainan genetic ini selain mempengaruhi bentuk alat kelmain juga fungsi alat kelamin menjadi berkurang atau hilang sama sekali (Hardjopranjoto, S.1995).
Seperti disebutkan diatas, beberapa factor non genetic juga dapat pula mempengaruhi timbulnya kelainan anatomi pada alat kelamin. Factor nongenetik terutama dalam bentuk bahan organic, yang dapat mendorong terjadinya kelainan anatomi alat tubuh disebut teratogen. Bahan-bahan seperti racun dalam tanaman, bahan organic atau anorganik dapat bertindak sebagai teratogen.
Kelainan anatomi pada alat kelamin yang disebabkan oleh factor genetic dan bersifat menurun, dapat terjadi baik pada hewan jantan maupun betina. Kelainan anatomi dapat terjadi pada ovarium dan saluran alat kelamin betina seperti tuba falopii, uterus, serviks, vagina, dan vulva pada hewan betina. Pada hewan jantan dapat terjadi pada testis, epididimis, vas deferens, kelenjar asesoris dan penis pada hewan jantan (Hardjopranjoto, S.1995).


KELAINAN ALAT KELAMIN BETINA BERSIFAT MENURUN

a.Aplasia Ovarium
Suatu kelainan yaitu tidak terdapat pertumbuhan sejak lahir sampai dewasa dari satu atau kedua ovarium, sehingga ovarium tidak dapat ditemukan sama sekali disebut aplasia ovarium. Kalau ada ovarium tersebut, barangkali hanya berupa penebalan seperti jarum pentul yang lunak. Hewan betina yang menderita kelaina ini sepenuhnya majir. Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan eksplorasi rectal. Dari perabaan melalui rectal ini ovarium tidak dapat ditemukan. Aplasia ovarium ini biasanya berhubungan dengan kelainan pada saluran alat kelamin. Hewan betina penderita kelainan ini tidak pernah memperlihatkan birahi dan induk demikian biasanya menyerupai hewan jantan (Arthur et al., 1982).

b.Hipoplasia Ovarium
Suatu keadaan dimana pada satu atau kedua ovarium tidak berkembang secara sempurna, sehingga ukurannya lebih kecil dari ukurannya yang normal disebut hipoplasia ovarium. Keadaan ini menurut Robert (1971), pertama kali ditemukan oleh Logerlof dan kawan-kawannya diswedia pada tahun 1939, bahwa hipoplasia ovarium pada bangsa sapi perah disebabkan oleh satu gen yang resesif.

Derajat hipoplasinya dapat bermacam-macam yaitu :
1.Hipoplasia berat atau totalis yang terjadi pada kedua ovarium (bilateral) atau hanya satu ovarium (unilateral).
2.Hipoplasia ovarium ringan (parsialis) juga dapat terjadi pada kedua ovarium atau hanya pada satu ovarium. Dapat pula terjadi kombinasi antara hipoplasia totalis dan hipoplasia parsialis pada seekor hewan betina. Hipoplasia berat dari ovarium biasanya dapat didiagnosa melalui palpasi rectal, yaitu terabanya ovarium dengan ukuran kecil. Akan tetapi pada hipoplasia rinfgan sukaer didiagnosa secara demikian, karena ukurannya tidak terlalu kecil hamper menyerupai keadaan pada atropi ovarium, disebabkan karena factor non genetic seperti krang pakan dalam waktu yang lama atau lingkungan yang tidak serasi, sedang hipoplasia ovarium disebabkan karena factor genetic. Kasus hipoplasia ovarium pada sapi ditemukan pada ovarium kiri 86,1% dan ovarium kanan 4,3%, sedangkan pada kedua ovarium besarnya 9,6%. Ovarium yang menderita hipoplasia mempunyai pertumbuhan yang tidak sempurna. Pada kondiosi hipoplasia berat, seluruh ovariumnya tidak mempunyai sel epitel kecambah (germinal epithelium) sehingga tidak dapat menghasilkan sel telur sama sekali. Sedangkan pada hipoplasia ringan, sebagian jaringan ovarium memiliki sel epitel kecambah yang normal akan berkembang menjadi sel telur yang normal. Pada sapi remaja yang menderita hipoplasia ovarium yang berat, ukurannya adalah sedemikian sangat kecil sehingga sukar diraba pada palpasi rectal. Ovarium yang demikian sangat kecil dank eras, dan pada derajat yang berat hanya berupa penebalan seperti pita di bagian depan dari mesovarium. Pada hipoplasia ringan, ovarium berukuran lebih kecil dari ukuran normal. Ovarium sapi yang normal berukuran panjang 2-3 cm, lebarnya 1-2 cm dan tebalnya 1-2 cm, sedangkan ovarium pada sapi yang mengalami hipoplasia parsialis berukuran lebih kecil dari ukuran yang normal. Ovarium yang demikian mempunyai permukaan kasar, karena adanya sel kecambah yang tumbuh menjadi folikel atau adanya korpus luteum. Ovarium semacam ini dapat dianggap berfungsi walaupun tidak sempurna. Pada sapi betina hipoplasia yang parsialis, pertumbuhan alat kelaminnya adalah normal. Sedangkan hewan betina yang menderita hipoplasia berat yang bilateral, pertumbuhan saluran alat kelamin menjadi tidak sempurna dan tetap kecil, birahinya tidak muncul dan tidak ada pertumbuhan sifat-sifat kelamin sekunder. Ini disebabkan pertumbuhan saluran alat kelamin ada dibawah pengaruh hormone steroid yang dihasilkan oleh ovarium. Pada sapi betina yang menderita hipoplasia ovariuym yang berat dan bilateral, akan berupa seekor sapi jantan kebiri, kakinya panjang, pelvisnya sempit, ambingnya tidak tumbuh dan putingnya kecil, uterusnya kecil dan keras. Alat kelamin luarnya juga kecil karena tidak berkembang (Arthur et al., 1982).
Pemberantasan hipoplasia ovarium ini dilakukan dengan jalan seleksi yang baik terhadap betina yang dippelihara. Bahayanya adalah sapi betina penderita hipoplasia ovarium yang berderajat sedang atau yang hanya unilateral, karena hewan betina yang menderita masih dapat bereproduksi sehingga masih dapat menghasilkan keturunan. Dengan demikian, hewan betina ini dapat menyebarkan sifat genetic yang jelek ini pada turunannya. Sebaliknya pada hewan betina yang menderita hipoplasia ovarium yang berderajat berat yang bilateral, karena tidak dapat bereproduksi sepenuhnya majir, maka dengan sendirinya tidak berbahaya bagi suatu peternakan karena tidak akan menyebarkan sifat genetic yang jelek ini pada turunannya. Selanjutnya setelah mencapai berat y6ang bmaksimum hewan betuina tersebut dapat dipotong (Arthur et al., 1982).

c.Nodula pada Tuba falopii
Penyumbata pada tuba falopii oleh nodula ini menyebabkan saluran menjadi buntu, sehingga dapat mencegah pertemuan antara sel telur yang diovulasikan dari ovarium dengan spermatozoa setelah perkawinan. Oleh karena itu proses pembuahan tidak terjadi. Kelainan pada tuba falopii ini bersifat menurun, karena itu akan muncul dengan cepat kelainan ini pada turunannya bila peternakan itu dilakukan perkawinan sebapak (inbreeding). Menurut Bearden & Fuquay (1980), banyaknya kasus kelainan anatomi pada tuba falopii ini sebesar 3,9 % dari kasus kemajiran pada sapi. Karena bersifat genetis, kelainan pada tuba falopii ini tidak dapat diobati, dan sulit untuk didiagnosa melalui palpasi rectal, kecuali pada ternak betina yang sudah dipotong dan dikeluarkan alat kelamin dari tubuhnya. Kadang-kadang hewan penderita kelainan tuba falopii ini dapat birahi karena ovarium dapat barfungsi, tetapi menjadi majir karena tidak terjadi pembuahan sel telur oleh spermatozoa pada ampulanya karena terhalang oleh nodula tersebut (Arthur et al., 1982).

d.Aplasia Segmentalis duktus Mulleri
Kelainan ini terjadi pada uterus, sebagai akibat dari tidak sempurnanya persatuan kedua saluran muller pada periode embrional, akibatnya terjjadi kelainan pada bentuk uterus. Kelainan ini disebabkan oleh gen yang resesif yang semula diduga bertautan dengan warna putih (sex linkage). Kelainan pada saluran uterus ini sering disebut white heifer disease karena banyak dijumpai pada sapi dara yang bewarna putih dari bangsa shorhorn. Akan tetapi ternyata kelainan genetic pada uterus ini dijumpai juga pada sapi-sapi yang berwarna bukan putih seperti sapi Holstein, jersey, Guernsey, dan lain-lain.
Menurut derajatnya, aplasia segmentalis duktus mulleri ini dibagi menjadi tiga bentuk yaitu :
1.Bentuk pertama, bentuk yang paling berat yang didapatkan adanya konstriksi atau penyempitan koruna uteri, korpus uteri, serviks, dan vagina bagian anterior. Koruna uteri berbetuk seperti pita tidak berongga, dapat juga koruna uteri membentuk kisata yang berisi lendir berwarna kuning atau coklat kemerahan. Besarnya kista bias berdiameter 2-10 cm dengan dinding yang tipis saja. Adanya pengecilan koruna uteri seperti piota dan rangkaian kista-kista duktus mulleri. Vagina dapat menjadi pendek atau bagian posterior dari vagina menjadi besar, sebab ada lendir yang tertimbun disebabkan karena selaput dara (hymen) yang buntu.
2.Bentuk kedua dari kelainan ini berupa uterus unikornus. Jadi pada bentuk ini, salah satu koruna uteri mempunyai ukuran yang normal, sedangkan koruna uteri yang lain bentuknya kecil seperti pita tidak berongga. Kebanyakkan koruna uteri kanan yang menderita penyempitan atau bahkan kadang-kadang tidak ada sama sekali.
3.Bentuk ketiga adalah adanya sela[ut dara (hymen) yang menebal dan menetap (persisten), sedangkan saluran alat kelamin lainnya dalam keadaan normal. Oleh karena ovarium dalam keadaan normal, maka sapi yang menderita kelainan ini dapat birahi secara normal. Hanya pada waktu kawin atau inseminasi buatan atau pada waktu melahirkan, induk memperoleh kesulitan karena selaput daranya menebal dan menutupi jalan keluar vagina.
Ketiga bentuk kelainan uterus ini, ovarium, tuba falopii dan vulvanya dapat saja bentuknya normal. Sapi betina penderita dapat mempunyai siklus birahi yang normal, dengan gejala-gejala birahi yang normal. Perkawinan secara alam dan Ib dapat terjadi, khususnya yang bentuk kedua dan ketiga, tetapi kemungkinan terjadinya perdarahan adalah besar atau bila ada kelahiran dapat terjadi distokia. Oleh karena sifat yang buruk ini bersifat menurun, maka sebaiknya hewan betina kelompok ini tidak dikawinkan, khususnya betuk kedua dan ketiga, karena kelainan pada bentuk ini masih dapat menurunkan sifat genetic yang jelek ini pada turunannya (Hardjopranjoto, S.1995).


Uterus white heifer disease
(Anonim b, 2006)

e.Uterus Unikornus
Suatu kelainan dari saluran alat kelamin betina alam bentuk hanya terdapat satu kornu uteri yang berukuran normal, sedangkan kornua uteri yang lain keadaannya sangat kecil seperti pita tidak berongga. Keadaan ini ada hubungannya dengan aplasia segmentalis duktus mulleri bentuk kedua. Koruna uteri yang mengecil dapat terjadi pada sebelah kiri atau sebelah kanan. Kasus uterus unikornus termasuk jarang dan diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan rectal. Oleh karena kelainan ini bersifat genetic, tidak dapat diobati. Pemberantasan dilakukan dengan seleksi yang baik dan sapi penderita dikeluarkan dari peternakan, karena masih dapat membawa sifat adanya kelainan genetic pada uterus ini pada turunannya.

Uterus unicornus

(Anonim c, 2006)

f.Uterus Didelpis
Suatu kelainan dari saluran alat kelamin betina dimana korpus uterinya tidak ada, menyebabkan koruna uteri berhubungan langsung dengan serviks yang mempunyai saluran ganda. Penyebab kelainan ini adalah juga karena adanya kegagalan dari kedua saluran muller untuk bersatu secara normal pada masa embrional. Kelainan ini dalah sama dengan kelaina serviks, yaitu adanya dua saluran pada batang serviks yang bermuara pada vagina. Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan melalui rectal yang tidak dijumpai adanya koruna uteri. Kasusnya pada ternak sangat jarang (Hardjopranjoto, S.1995).

g.Saluran Serviks yang Ganda.
Kelainan ini ditandai dengan adanya dua lobang dari salueran serviks yang menghadap vagina (os uteri externum), sehingga mengakibatkan petugas inseminasi ragu-ragu dalam menumpahkan air mani pada waktu melaksanakan inseminasi buatan. Demikian juga pada waktu melahirkan, akan memperoleh kesulitan karena fetus terjerat pita ditengah-tengah saluran serviks. Penyebab dari keadaan ini, adalah tidak berjalannya secara normal, persatuan kedua saluran muller pada periode embrional, sehingga ada pita yang membagi korpus uteri dan saluran serviks menjadi dua bagian terpisah. Diagnosa dengan pemeriksaan memakai vaginoskop, akan terlihat seolah-olah ada dua lobang pada saluran serviks, karena ada selaput yang membagi saluran serviks berupa tenuna seperti pita. Pada keadaan yang berat terjadi dinding pemisah tebal. Seperti pita tersebut membentang sepanjang serviks sampai pangkal koruna uteri, sehingga kedua saluran serviks masing-masing berhubungan dengan koruna uterinya sendiri-sendiri sehingga terbentuklah uterus didelpis (Arthur et al., 1982).

h.Kista Vagina
Merupakan kelainan pada saluran woff pada hewan betina pada periode embrional. Secara normal saluran wolff akan menghilang setelah fetus dilahirkan, dan sisa-sisanya dapat dikenali dibawah mukosa lantai vagina sebagai saluran wolff. Pada kasus ini terjadi kelainan pertumbuhan saluran tersebut yaitu dibawah mukosa pada lantai vagina terdapat serangkaian kista sepanjang salurtan wolff tersebut. Ukuran kista sangat bervariasi, sedang sampai besar yang berdiameter antara 10-15 cm, dan berisi cairan atau lender sampai lebih dari satu liter. Jumlah kista bisa hanya satu, dapat pula beberapa kista dengan ukuran yang berbeda. Kista ini dapat menganggu pada proses perkawinan alam, yaitu kista ini dapat menghalangi proses penetrasi penis dalam vagin, dapat pula sel mani terhalang dalam perjalannanya menuju tuba falopii tempat terjadinya pembuahan. Demikian pula waktu melahirkan, kista ini dapat menghalang-halangi jalan kelahiran, sehingga fetus yang akan lahir mendapat gangguan dalam menuju ke luar alat kelamin. Penanggulangan terhadap keadaan ini dapat dilakukan dengan operasi menyayat kistanya, rongga vagina tidak lagi tersumbat, setelah isi kista dikeluarkan, sumbatan dalam rongga vagina dapat dihilangkan (Arthur et al., 1982).

Kista
(Anonim c, 2006)

i.Selaput Dara yang Menetap (hymen persistent)
Kelainan ini berbentuk pada perbatasan antara vagina dan vulva terdapat selaput berupa jaringan pengikat yang tebal dan kenyal bersifat menetap, disebut selaput dara yang menetap. Pada keadaan yang normal pada ternak, selaput dara ini hanya berupa penebalan mukosa pada bagian posterior vagina yang bebatasan dengan vulva. Karena tebalnya, selaput dara pada kasus ini sulit ditembus oleh suatu benda, oleh karena itu selaput dara yang menetap ini sering juga disebut imperforate hymen. Kasusnya jarang terjadi pada hewan ternak. Kasus ini pada sapi ada hubungannya dengan white heifer disease atau aplasia segmentalis duktus mulleri, yaitu suatu kegagalan proses bersatunya kadua saluran muller pada periode embrional yang dapat mengganggu perkawinan alam atau kelahiran. Diagnosa pada kelainan ini dilakukan dengan perabaan melalui vagina (eksplorasi vaginal). Dengan memakai vaginoskop, bila dimasukkan kedalam rongga vagina, akan segera tertahan oleh selaput dara yang tebal ini. Penanggulangan kasus ini dapat dilakukan dengan penyobekan dengan pisau operasi pada selaput tersebut melalui pembuahan kecil pada vagina, selanjutnya selaput dikeluarkan dan bekas sayatan diobati (Arthur et al., 1982).


j.Atresia Vulva
Suatu keadaan pada vulva yang terjadi pertumbuhan tidak sempurna dalam bentuk adanya perlekatan kedua bibir (labia) vulva dibagian ventralnya. Kadang-kadang kelainan ini bersamaan dengan atresia ani. Kasusnya jarang pada ternak, tetapi kelainan ini bersiofat menurun. Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis khususnya pemeriksaan pada alat kelamin luarnya, yaitu adanya kelainan pada bagian ventral dari vulva. Penanggulangan dapat dilakukan dengan operasi melalui pelepasan bagian yang mengalami perlekatan. Bila dijumpai pada ternak betina, sebaiknya tidak dikawinkan dan dikeluarkan dari peternakan.

k.Freemartin
Sapi betina yang lahir kembar dengan pedet jantan disebut freemartin. Sapi freemartin sepenuhnya adalah majir sehingga tidak dapat bereproduksi. Kembar jantan betina ini pada sapi lebih dari 90% yang bersifat freemartin.

Kembar freemartin
( Anonim a, 2006)
Oleh karena itu hanya 5-10% kembar yang berbeda jenis kelamin ini, pada sapi tidak freemartin. Sapi betina lahir kembar dengan anak jantan yang bukan freemartin ini dapat terjadi, karena selaput korion kedua fetus yang berbeda jenis kelamin gagal mengadakan pertautan setelah terjadi perkembangan alat kelamin, sehingga alat kelamin betina tumbuh normal. Kondisi freemartin pada sapi juga pernah dilaporkan pada kambing, domba, dan babi. Gejala-gejala yang ditunjukkan pada sapi freemartin adalah alat kelamin tidak tumbuh secara normal. Vulva berbentuk kecil dan rambut yang ada dibawah vulva tumbuh lebih lebat, klitoris berkembang menjadi lebih besar. Vagina berujkuran kecil dan pada ujung depannya buntu. Serviks tidak tumbuh secara normal, dan uterus ukurannya kecil sperti pita, sedangkan tuba falopii tidak teraba. Ovarium sangat kecil berupa penebalan jaringan.

Segmental Uterine Aplasia-Freematinism
(Anonim b, 2006)

Pada perabaan melalui rectal, semua saluran reproduksi dan ovarium tidak dapat teraba kecuali uterusnya. Kecilnya saluran alat kelamin ini disebabkan gangguan perkembangan saluran muller pada masa embrional. Kelenjar ambing tetap kecil dan mudah dibedakan dengan ambing normal setelah setelah berumur dua bulan atau lebih, dan putingnya tetap kecil. Sapi betina freemartin tampak seperti sapi jantan dan selalu dalam keadaan anestrus, sehingga sapi freemartin sepenuhnya majir. Penyebab freemartin belum jelas benar. Teori hormonal yang muncul pada tahun 1916 menerangkan bahwa testis dari fetus kembar yang jantan berkembang lebih dahulu daripada ovarium dari kawan kemabr yang betina, sehingga hormone androgen dihasilkan lebih dahulu. Sementara itu pada ternak sapi yang bunting kembar, selalu terjadi pertautan antara selaput fetus yang satu dengan selaput fetus yang lain, disertai dengan adanya anastomosa pembuluh darah dari kedua fetus. Akibatnya terjadi percampuran darah antara kedua fetus jantan dan betina, dan hormone androgen dari fertus jantan akan masuk kedalam fetus betina. Hormone jantan ini menghambat pertumbuhan alat kelamin betina sehingga alat kelamin betina tida tumbuh secara wajar , tetapi tetap kecil keadaannya sampai dewasa (Hardjopranjoto, S.1995).

KELAINAN ALAT KELAMIN JANTAN BERSIFAT MENURUN
Kelainan alat kelamin jantan yang bersifat menurun disebabkan olleh gen yang resesif pada autosomnya, dapat terjadi pada semua bagian alat kelamin jantan sejak dari testis, saluran-salurannya seperti epididimis, vasdeferens, ampula sampai penias dan kelenjar asesorisnya.
a.Kriptorchid
Suatu keadaan yang testisnya gagal turun kedalam rongga skrotum melalui saluran inguinal. Sehingga testis tetap berada dalam rongga abdomen. Kegagalan penurunan bisa terjadi hanya satu testis disebut kriptorchid monolateral atau monorchid, dapat pula terjadi pada kedua testis disebut kriptorchid bilateral. Kriptorchid ini dapat terjadi pada semua hewan mamalia, tetapi yang paling sering dijumpai adalah kuda, kambing dan babi. Pada sapi, kelainan ini jarang. Kriptorchid baik yang monolateral maupun yang bilateral merupakan kelainan letak anatomi testis, dan bersifat herediter atau menurun. Penye4babnya adalah menyempitnya saluran inguinal, sehingga testis tidak dapat melewati saluran ini dan gagal memasuki skrotum dari rongga perut pada saat menjelang kelahiran. Pada kuda dan sapi, kelainan anatomi ini merupakan kelainan genetic yang dibawa oleh gen dominant pada yang jantan. Hewan jantan penderita kriptorchid yang bilateral sepenuhnya steril, karena kedua testis yang berada didalam rongga perut tidak mampu mengadakan proses spermatogenesis, sehingga tidak dapat dihasilkan sel spermatozoa. Kriptorchid yang monolateral, proses spermatogenesis masih dapat terjadi pada testis yang berada dalam rongga skrotum, namun air mani yang dihasilkan mempunyai konsentrasi rendah dan kondisinya encer. Pada sapi, kambing dan domba, pejantan yang kriptorchid harus dipotong, setelah dipelihara dalam rangka penggemukan (Hardjopranjoto, S.1995).

Kriptorchidism
( Anonim b , 2006)
b.Hipoplasia testis
Hipoplasia testis dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana satu atau kedua testis lebih kecil dari yang normal. Hupoplasia testis berarti gangguan atau tidak sempurnanya perkembangan dari tetis, sehingga penderita tidak mampu menghasikan air mani. Hipoplasia sering terjadi unilateral umumnya pada testis kiri. Testis yang mengalami hipoplasia mengecil tinggal separuh, atau sepertiga dari ukuran normalnya dan bebas bergerak didalam rongga skrotum.

Histologi testis normal
(Anonim b, 2006)

Histology testis degeneratif
(Anonim b, 2006)

Konsistensi testis yang mengalami hipoplasia bervariasi dari konsistensi mendekati normal sampai kenyal, berbeda dengan konsistensi testis yang mengalami degenerasi atau atropi, selain menjadi kecil juga terasa ada pengerasan akibat tumbuhnya jaringan ikat (Hardjopranjoto, S.1995).

c.Aplasia testis
Suatu keadaan dimana pada kedua testis tidak ada dalam rongga skrotum disebut aplasia testis. Penyebab aplasia testis belum diketahui, dan diduga ada kaitannya dengan factor genetic. Di dalam rongga skrotum terdapat sisa berupa jaringan berbentuk gepeng. Hewan jantan penderita sepenuhnya majir karena tidak dapat menghasilkan sel spermatozoa. Diagnosa dapat dilakukan dengan dengan pemeriksaan klinis dengan palpasi pada skrotumnya, yang skrotumnya daalam keadaan kosong (Hardjopranjoto, S.1995).

d.Poliorchid
Suatu keadan di dalam skrotum terdapat lebih dari dua testis, baik yang bentuknya normal maupun tidak normal. Kasusnya sangat jarang dijumpai pada ternak. Suatu kasus yaitu bentuk salah satu testis dalam keadaan normal, hewan jantan ini dapat menghasilkan air mani, sehingga dapat bereproduksi dan memberikan keturunan. Diagnosa kasus ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis dengan palpasi pada skrotumnya ditemukan adanya lebih dari dua testis didalamnya.

e.Kelainan Perkembangan Saluran Wolfii (duktus Mesoneprikus)
Duktus mesoneprikus atau saluran wolfii pada fetus jantan bertanggung jawab pada perkembangan saluran epididimis, vas deferens, ampula dan kelenjar vesikula seminalis. Selanjutnay saluran kelenjar tersebut menhasilkan cairan yang diperlukan untuk penyimpanan dan pengangkutan sel mani yang dihasilkan oleh testis. Kelainan pertumbuhan saluran kelamin jantan mungkin terjadi karena kelainan pertumbuhan dan perkembangan duktus wolfii ini.
Kelainan yang dapat dijumpai umumnya berbentuk :
1.Aplasia segmentalis epididimis yaitu suatu keadaan pada sebagian atau seluruh epididimis lebih kecil dari normal, ddan kelainan ini mungkin bersifat genetis
2.Aplasia atau hipoplasia vesikula seminalis, yaitu pada kedua atau salah satu kelenjar berukuran kecil (Hardjopranjoto, S.1995).

f.Abnormalitas Alat Kelamin Luar
Alat kelamin luar yang terdiri atas penis, praeputium, dan skrotum dapat menderita kelainan baik yang bersifat congenital (ada sejak lahir) maupun perolehan (acquired). Kelainan-kelainan itu dapat berbentuk frenulum persisten penis.
Bentuk-bentuk kelainan penis lainnya antara lain adalah :
1.Penis pendek, yaitu suatu keadaan yang ukuran penisnya lebih kecil dari normal. Keadaan ini berkaitan erat dengan kelainan urat daging (muskulus) retractor penis. Kasusnya jarang dan dapat didiagnosa dengan palpasi dari bagian penis atau memeriksa penis waktu perkawinan alam.
2.Hipospadias, yang uretranya terbuka pada bagian bawah penis atau di daerah perineum. Di daerah ini sering terjadi perdarahan pada waktu ereksi akibat kelainan congenital dari pembuluh darah ujung penis.
3.Deviasi penis, suatu keadaan yang bersifat congenital misalnya penis yang berbentuk spiral atau penis yang berbentuk seperti pembuka botol (corkscrew) (Hardjopranjoto, S.1995).
g.Hermaprodit

Hewan yang dipelihara secara anatomis mempunyai kedua alat kelamin sehiongga memperluhatkan penampilan jenis kelamin yang meragukan sering disebut hermaprodit.
Hermaprodit ini dibagi menjadi dua bentuk yaitu :
1.Hermaprodit murni, yaitu hewan yang memiliki kedua alat kelamin jantan dan betina yaitu testis dan overium, atau sering disebut ovotestis. Hermaprodit yang murni dengan kedua gonad, testis dan ovarium ini telah dilaporkan terjadi pada kuda, kambing, babi,, dan sapi. Kambing dan babi paling sering dijumpai disbanding hewan lain.
2.Pseudohermaprodit, yaitu hewan yang mempunyai salah satu testis atau ovarium, tetapi sisa saluran alat kelamin masih meliputi kedua jenis kelamin. Jadi pseudohermaprodit dapat digolongkan jantan atau betina tergantung pada jenis kelamin dari gonad yang berkembang. Pseudohermaprodit jantan adalah hewan yang memiliki testis tetapi mempunyai pemanpilan seperti betina. Demikian sebaliknya, pada pseudohermaprodit betina (Hardjopranjoto, S.1995).
Share this article :

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FedcoSierra - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger