SUMMARIES OF STERILITY CONTROL ON LIVESTOCK

SUMMARIES OF
STERILITY CONTROL ON LIVESTOCK
BY: KUNTA ADNAN SAHIMAN, SKH


GONAD
1. OVARIUM
· Ovarium diperiksa dengan palapsi rektal.
· Bentuk dan ukuran ovarium dipengaruhi oleh CL dan folikel.
· Aktivitas ovarium sangat dipengaruhi oleh hormon-hormon reproduksi.
2. TESTIS
· Fungsi utamanya adalah spermatogenesis dan sekresi hormon steroid.
· Aktivitas tetstis sangat dipengaruhi oleh aktivitas hormon-hormon reproduksi .
· Fungsi testis dapat diuji dengan menilai sampel semen dan assay.
· Palpasi dan pengukuran testis dapat membantu memprediksi potensi sperma dan kondisi patologi testis.

TRAKTUS GENITAL TUBULER
1. BETINA
· Traktus genital tubuler betina (TGTB) berasal dari duktus paramesonepohros (d.mulleri) kecuali vestibulum yang berasal dari sinus urogenital.
· TGTB adalah oviduct, uterus, sevik (bagian anterior) dan vagina, vestibulum, vulva (bagian posterior).
2. JANTAN
· Merupakan jalan untuk sel sperma dan semen.
· Susunanya dimulai dari d.efferent® epididimis® d.defferens® penis yang didalamnya terdapat urethra untuk menyalurkan sperma dan semen saat ejakulasi.
· Epididimis berfungsi sebagai tempat pemasakan, penyimpanan, dan mengabsorbsi spermatozoa yang abnormal.
· Ampula dan glandula asesoris (vesica semionalis, prostata, bulbouretralis) berfungsi: memberikan kontribusi pada pembentukan plasma semen.
· Anjing tidak punya vesica seminalis dan bulbouretralis.

SIKLUS ESTRUS SAPI BETINA
1. Estrus
· Hari ke-0
· Lama 12-24 jam
· Terjadi setiap 21 hari
· Terjadi Pemasakan folikel
· Terjadi Lonjakan LH
· Estrogen tinggi® kemerahan vulva, leleran lendir vagina
· Palpasi rektum® uterus terasa tegang, ada folikel besar di salah satu ovarium
· Ovulasi terjadi 12 jam setelah akhir standing estrus
2. Metestrus
· Hari ke- 1 sd 3
· Lama 5-7 hari
· Saat terjadinya ovulasi (dalam waktu 12 jam)
· Terjadi Pembentukan CL haemorhagikum
· Tidak responsif terhadap PGF
· Pem.perektum® uterus tonusnya intermiten: tegang-kendor; tidak ada lagi folikel besar, teraba lekukan bekas ovulasi
3. Diestrus
· Hari 5-18
· Lam 10-15 hari
· Kadar P4 tinggi
· Uterus teraba kendor; ovarium mempunyai CL dan folikel
· CL fungsional sampai hari ke 17-18 (CL periodikum), bila tidak bunting ® regresi; bila ada konseptus ® CL kebuntingan/ gravidatum.
· Cl periodikum® stroma ovarium dan CL berbatas jelas
· CL Gravidatum® stroma ovarium dan CL menyatu, ovarium dan CL mengalami edema®ovarium teraba lebih besar
4. Proestrus
· Hari 19-21
· Lama 3 hari
· CL regresi, folikel masak
· Kenaikan E2, pertumbuhan folikel ovulasi
· Palpasi rektum® uterus mulai meningkat tonusnya, ada folikel besar di salah satu ovaria

PERUBAHAN OVARIUM SELAMA SIKLUS ESTRUS (hari)
· 0-1 : Standing heat 12-24 jam, ada folikel besar pada salah satu ovariumnya (diameter>1,5 cm) ovulasi 12 jam setelah akhir standing heat akibat lonjakan LH dari hipofise anterior
· 1-3 : Luteinasi CL haemorhagikum oleh LH
· 3-16 : Cl berkembang pesat. Produksi P4 menghambat pelepasan LH. Folikel berkembang tapi tidak ovulasi.
· 16-18: CL regresi oleh PGF2a.
· 18-21: CL non-fungsional, folikel-folikel ovulasi mulai tumbuh dengan pesat® prod. E2. Folikel graaf berkembang lebih lanjut dan yang lainnya regresi.
· 21-0 : peningkatan prod.E2 oleh folikel graaf® mucul gejala estrus.


DETEKSI BIRAHI
Metode untuk meningkatkan tingkat deteksi birahi:
1. Identifikasi sapi
2. Meningkatkan observasi secara teratur
3. Menggunkan deteksi estrus (mount detector with karmar)
4. Menggunkan pejantan yang dikebiri
5. Menggunkan pedometer, anjing terlatih dan assay progesteron susu

WAKTU IB
· Waktu IB yang tepat adalah pertengahan sampai akhir birahi atau 13-18 jam sebelum ovulasi.
· Sapi dapat juga di IB saat mulainya timbul tanda estrus atau 36 jam setelah estrus berakhir, namun angka konsepsinya rendah

DIAGNOSA KEBUNTINGAN
Ada 2 indikasi menetukan kebuntingan :
1. Indiaksi EKSTERNAL:
· Recording
· Anestrus
· Pembesaran abdomen, kelenjar susu
· BB meningkat
· Gerakan fetus
· Gerakan sapi lambat
· Bulu mengkilat
2. Indikasi INTERNAL:
· Asimetris kornu uteri
· Adanya kantong amnion
· Adanya pergelinciran selaput janin
· Adanya fetus
· Adanya fremitus dan plasentom

· Adapun differensial kebuntingan adalah : tumor, mumifikasi, pyometra, mukometra, distensi VU.
· Metode diagnosa kebuntingan dengan : PKB atau USG; perubahan fisik tubuh; perubahan P4 dalam urin atau darah.

BESARAN FETUS : UMUR KEBUNTINGAN SP

2 = Sebesar tikus
3 = Tikus besar
4 = Kucing kecil
5 = Kucing besar
6 = Anjing kecil
7 = Rambut tumbuh badan & kaki
8 = Rambut lengkp, gigi insisi sdkt erupsi
9 = Gigi insisi erupsi




PENGARUH HORMON KEBUNTINGAN
1. Progesteron (P4): pertumbuhan kel.endometrium, sekresi susu uterus, pertumbuhan endometrium, pertautan plasenta dan menghambat motilitas uterus
2. Estrogen (E); menambah pengaruh kerja P4, perkembangan ambing, relaksasi lig.pelvis dan serviks, sensitivisasi uterus terhadap oksitosin
3. LH: memelihara CL
4. Relaksin: perlunakan jar.ikat shg otot uterus merenggang dan fetus dapat berkembang.

PENDEKATAN TERAPI
· Kondisi patologi ovarium (kista ovaria, delayed ovulation) ® LH (HCG/ GnRH
· CLP pada pyometra® PGF2α.
· Tdk ada aktivitas ovarium pasca-partus (hipofungsi ovaria) ® FSH/ GnRH.
· Terlambat puberitas®FSH,eCG, eCG+HCG
· Induksi abortus®E2, PGF2α (sp,bb,kd). Jika fetus sudah mati ® kombinasi PGF2α+ oksitosin (bb), Oksitosin (kd).
· Kebuntingan diperpanjang ®E2 dan oksitosin.
· Pembilasan uterus® lugol, chlorhexidine, hydrogen peroksida, iodophour

Preparat hormon reproduksi
A. GnRH
1. Fertagyl
2. Folligon
3. Chorullon
4. Receptal
5. PG 600
B. P4
1. Crestar
2. PRID
3. CIDR
C. PGF2α
1. Glandin N
2. Lutalyse
3. Prosolvin
4. Prostavet-C
5. Illiren
6. Preloban
7. Reprodin
D. E2
1. Estradiol benzoat
2. Prolan-s oil
E. Oksitosin
1. Hormonipra
2. Intertocine-S
3. Oxytocin-TAD
4. Oxyvet Injeksi

BODY CONDITION SCORE

1= Sangat kurus
2= Kurus
3=Sedang
4= Gemuk
5= Gemuk sekali


KONTROL REPRODUKSI
Untuk menetukan tingkat kesuburan seorang ahli kebidanan harus memeriksa secara akurat. Urutan pemeriksaan yang harus dilalui meliputi : sejarah, gejala, pemeriksaan klinis, tes diagnosa, diagnosa, dan terapi.


1. Sejarah
· Umur
· Induk
· Data partus terakhir
· Data S/C dan CI
· Data pakan, manajemen, produksi susu
· Data kesehatan
· Data fertilitas sapi lain
· Data birahi post partus
· Leleran abnormal
2. Gejala
· Anestrus, nimfomania, kawin berulang,dan abortus.
3. Pemeriksaan klinis
· Inspeksi vulva, perineum, vestibulae, untuk kejadian lesi dan leleran
· Pangkal ekor, flank
· Pem. Vagina dengan tangan atau speculum, mukosa dan mukusnya.
· Palpasi serviks untuk menetukan ukuran dan posisi pelvis, kondisi uterus, tekstur, ukuran serta ada/tidaknya adhesi.
· Palpasi ovarium
4. Tes diagnosa
5. Diagnosa
a. Anestrus
· Diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya seperti: anestrus normal (blm kawin, bunting, laktasi), gangguan hormon (FSH dan E rendah)
· Hasil pemeriksaan terhadap ovarium yang mempunyai gejala anestrus kemungkinannya adalah: tidak ada ovarium (ovarian agenesis, freemartin/nulipara), ovarium kecil dan inaktif (hypofungsi ovaria), ovarium kecil, kenyal, smooth dan inaktif. Kondisi ini dapat dosebabkan karena (a). produksi susu tinggi, (b). Menyusui, (c). Kurang nutrisi, (d). BB turun (BCS=2), (e). Def.mineral, (f). Penyakit kronis, g. Cacingan. Terapi dari kasus ini adalah menghilangkankan penyebabnya kemudian perbaikan pakan. Untuk mempercepat kembalinya estrus dapat diberi GnRH, Progesteron, dan estrogen
· Adanya korpus luteal. Kondisi ini memungkinkan hewan tersebut (a). Bunting, (b). CLP. Terapi dengan pemberian PGF2α dan AB jika hewan tidak bunting
b. Subestrus atau Silent heat
Kasus ini ditandai dengan birahi yang singkat (3-4 jam) atau birahinya tidak jelas. Palpasi ovarium teraba folikel yang kecil atau adanya CL yang regresi. Terapinya dengan pemberian GnRH.
c. Nimfomania
Kasus ini ditandai dengan gejala birahi yang terus menerus. Pada plapasi ovarium akan teraba 1-2 ovarium yang membesar dan mengandung cairan, berdinding tipis, diameter >2,5 cm. Kasus ini dinamakan sista folikuler. Penyebabnya adalah produksi susu yang tinggi, intake nutrisi yang rendah atau kekurangan hormon LH. Terapinya dengan pemberian hormon LH (HCG).
d. Jarak antara estrus panjang (>21 hari)
Hal ini dapat disebabkan estrus yang tidak teramati atau akrena kematian embrio dini.
e. Kawin berulang
Definisinya adalah sapi betina yang mempunyai siklus normal, dikawinkan lebih dari 3 kali dengan pejantan fertile atau dengan IB dari semen yang sudah teruji tetapi tetap belum bunting. Penyebab utama adalah kematian embrio dini dan kegagalan fertilisasi.
f. Jarak antara estrus pendek
Kondisi ini ditandai dengan nymphomania.
g. Abortus
Abortus dapat disebabkan :

Agen = Umur kebuntingan
1. B.abortus = 6-9 bln
2. Leptospira sp = 6-9 bln
3. L.monositogenes = Sporadik, 6-9 bln
4. Campylobacter fetus = Sblm 5 bln
5. Salmonella = ± 7 bln
6. Corynebakterium pyogenes = Sproradik, setiap saat
7. m. tuberculosis = Setiap saat
8. Mikotik = 4-9 bln
Racun, hormon, genetik



KASUS-KASUS REPRODUKSI YANG SERING TERJADI DI LAPANGAN
A. ANESTRUS
· Anestrus bentuk normal dapat terjadi pada hewan : belum dewasa kelamin, Sedang bunting, masa puerpurium.
· Anestrus karena gangguan hormonal dan atau nutrisi dapat terjadi pada kasus: Silent heat, hypofunsi ovaria, atropi ovaria, sista luteal.
· Abortus karena patologi uterus diatandaio dengan adanya CLP yang terjadi pada kasus: endometritis kronis/ metritis, pyometra, maserasi fetus, mumifikasi fetus
· Abortus karena faktor genetik : hipoplasia ovaria, agenesis ovaria, freemartin.

B. KAWIN BERULANG
Hal ini terutama :
1. Kegagalan fertilisasi :
· Silent heat
· Subestrus
· Ambnormalitas spermatozoa
· Stenosis trac.genital betina
· Delayed ovulasi
· Sista folikuler
2. Kematian embrio dini:
· Faktor genetik
· Faktor lingkungan (nutrisis, temperatur, infeksi, hormonal, lingkungan uterus, dan umur).

ABORTUS PADA HEWAN BESAR
Abortus adalah akhir dari kebuntin gan setelah organogenesis komplit tetapi fetus yang dikeluarkan mati.
Kematian embrio dini adalah akhir dari kebuntin gan sebelum organogenesis komplit.
Stillbirth adalah kematian fetus pada akhir kebuntingan
A. ABORTUS PADA SAPI
1. Faktor nonspesifik
· Gen letal
· Vitamin A, E, Se, dan Fe (vit. A paling penting)
· Strees
· Trauma
· Toksin
· Estrogen
2. Faktor infeksi spesifik
· Infeksi Neospora
· BVD-MD
· IBR
· Leptospirosis
· Brucellosis
· Mycotic abortion
· Corynebakterium (actinomyces pyogenes)
· Trikomoniasis
· Vibriosis atau Camphylobacterisis
· Listeriosis
· Epizootik Bovine Abortion (EBA)
· Bluetongue
· Parainfluenza 3


B. ABORTUS PADA DOMBA
· Camphylobacter fetus (vibriosis)
· Epizootic abortion of ewe (EWE)
· Toxoplasmosis
· Listeriosis
· Brucellosis
· Salmonellosis
C. ABORTUS PADA KAMBING
1. Agen non-infeksi
· Racun tanaman
· Def.copper
· Vit. A
· Mg
· Estrogen
· Glucocortikoids
· Phenothiazine
· Carbon tetrachloride/ levamisole
2. Agen infeksi
· Epizootic abortion (Clamydia abortion)
· Toxoplasmosis
· Leptospirosis
· Brucellosis
· Listeriosis
D. ABORTUS PADA KUDA
Agen non infeksi yang menyebabkan abortus pada kuda umumnya adalah kasus kembar. Umunya abortus terjadi pada 8-9 bulan. Abnormalitas umbilikalis, torsi dapt juga menyebabkan abortus. Ectopic pregnancy dapat juga menyebabkan abortus tetapi hal ini jarang terjadi.
1. Agen non-spesifik
· Servisitis, vaginistis, endometritis, pyometrea, metritis puerpureal, perimetritis
2. Agen infeksi spesifik
· Equine Rhinopneumonitis (Equine Herpesvirus I)
· EquineVira Arteritis (EVA)
· Abortus karena bakteri
· Equine Mycotic Placentitis

E. ABORTUS PADA BABI
Banyak faktoryang dapat menyebabkan abortus pada babai. Kejadian SMEDI (stillbirth, mumifikasi, embryonic death, infertilitas) lebih sering ditemukan pada babi dibandingkan hewan lain. Mumifikasi sering ditemukan karena jumlah anak yang banyak.
1. Agen non-infeksi
· Heat strees
· Keracunan CO
· Nutrisi
· Racun
· Def.vit A, Riboflavin, Ca, Fe, Mn
2. Agen infeksi
· Porcine parvovirus (PPV)
· Porcine enterovirus (PEV)
· Pseudorabies
· Porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS)
· Japanese B enchepalitis virus
· Hog cholera
· Leptospirosis
· Brucellosis

GANGGUAN RERODUKSI PADA HEWAN KECIL
1. METRITIS AKUT
Hal ini dapat disebabkan kejadian abortus, infeksi fetus, retensi plasenta, manipulasi kebidanan, atau infeksi setelah partus normal. Hewan terlihat demand an keluar leleran purulent dari vagina. Terapi dengan PGF2α, oksitosin.
2. DISTOKIA

PATOLOGI PUERPURIUM
Kasus-ksus yang sering terjadi pada masa puerpurium adalah ;
1. Hemorragi
· Pendarahan setelah partus
· Disebabkan karena trauma
· Penanganan dengan menekan (yang terlihat dan yang terjangkau) dengan kapas, mengklem arteri dan ligasi. Jika sumber tidak ditemukan, inj. oksitosin→kontraksi uterus→ pendarahan berhenti.
2. Hematoma pada vulva babi
· Hal yang normal terjadi pada babi disebabkan tekan dari fetus atau gesekan pada dinding kandang
· Vulva hematoma jangan dibuka
· Jika terjadi ruptur→ligasi pemb.darhnya
3. Rupture uterus
· Disebabkan penanganan dsitokia khususnya pada ksus fetopelvic disproportion pada sapid an domba.
· Penanganan: bagian yang rupture/ lubangnya kecil →oksitosisn; kontraksi uterus →cepat involusi.
· Jika rupturnya besar →jahit
4. Laserasi serviks
5. Laserasi vagina
6. Prolapsus uterus
7. Prolapsus vagina
8. Retensi plasenta
9. Endometritis
10. Metritis
11. Piometra
12. Nekrotik vaginitis
13. Abnormalitas produksi susu
14. Post parturien recumbency
A. Def.mineral
· Def. Mg
· Def. P
· Ketonis
B. Toksemia
C. Penyakit neurologi
· Obturator paralysis
· Perineal paralisis
· Fraktur/ dislokasi



SINDROM SAPI AMBRUK
(COW DOWN SYNDROM)
Management :
Nutrisi :
· Transient tetany
· Traumatic retikulo-peritonitis
· Kelaparan
Infeksi :
· Bakteri : black leg, lack disease, botulism, footrot, tetanus, septicaemia (mastitis, metritris, encephalitis, arthritis)
· Virus : ephemeral fever
· Jamur : Mycotoxicosis
· Parasit : Tick paralysis- Anaplasmosis, Babesiosis
· Luka fisik : rupture setelah beranak, patah tulang
· Genetik : hydrops allantois/ alantois
· Lingkungan : stress akibat panas
· Agen-agen toxic : keracunan; Pb, urea, nitrite

PENYAKIT-PENYAKIT METABOLIK
1. HYPOCALCEMIA (PASTURIENT PARESIS, MILK FEVER)
· Sering terjadi setelah partus
· Ditandai kelemahan otot, kolap sirkulsi dan depresi
· Penyebab dsarnya dalah kehilangan Ca, insufisien parathyroid, absorbs Ca oleh usus rendah dan absorbsi Mg¯ ®Ca¯.
· Presdidposisinya adalah umur, sapi gemuk, prod. Susu tinggi, stress secara fisiologik (Ipartus, kelaparan, estrus, transport), genetik, terlalu banayk diberi konsentrat sebelum/ sesudah beranak.
· Hypocalcemia terbagi atas 1. Pre-partus, 2. Segera setelah post-partus, 3. Saat produksi susu tinggi, terjadi pada 8 mg PP.
· Tanda klinis : 1. Gelisah, kejang otot, tremor, menggeretrakkan gigi; 2. Sternal recumbency, kepala memutar seperti huruf ‘S’. Tidak bisa berdiri, mulut dan mata kering, temperature sub-normal (36-38°C), dilatasi pupil, relaksasi anus dan kehilangan reflex anal, pulsus lemah dan tekanan vena rendah.
· Pengobatan : pemberian Ca.boroglukonate i.v dosis = 1gr Ca/ 45 Kg. Biasa dalam larutan 20-40% atau dengan dosis 400-8000 ml (20%) diberikan secara SC. Hal yang perlu diingat bahwa pemberian Ca secara IV harus perlahan-lahan, jika terlalu cepat maka jantung tidak teratur.
2. DOWN COW
· Keadaan dimana sapi mengalami paresis pada periode peri-partum.
· Penyebabnya tidak diketahui dan kejadiannya pada sapi sekitar 3-5%.
· Tanda klinis: hewan berbaring, berusaha untuk berdiri tetapi gagal.
· Tidak respon dengan pemberian Ca
· Pengobatan tidak selalu berhasil

INFERTILITAS PADA HEWAN JANTAN
Tingkat kesuburan pejantan dapat dilihat dari 4 faktor yaitu:
1. Kemampuan produksi semen
2. Libido pejantan
3. Kemampuan berkopulasi
4. Kondisi kelenjar asesori

Diagnosa gangguang reproduksi pejantan
1. Melihat catatan hasil perkawinan
2. Pemeriksaan organ kelamin
3. Perilaku kawin
4. Kualitas dan kuantitas semen

ABNORMALITAS REPRODUKSI HEWAN JANTAN
Abnormalitas ini dapat berupa:
1. Kondisi yang menyebabkan rendahnya libido
2. Kegagalan (ereksi) kopulasi, abnormalitas ereksi, lesi pada preputium, gagal ejakulasi

Kegagalan ereksi dapat berupa
a. Adanya gangguan aliran darah ke korpus kavernosum penis (CCP)
b. Ganguan saluran longitudinal penis
c. Ruptur CCP
Abnormalitas ereksi
a. Persisten penil prenulum
b. Kegagalan protusion penis karena abnormalitas kogenital
c. Deviasi penis
Kegagalan protusion penis karena lesi praeputium
a. Kelukaan preputium
b. Pimosis
c. Parapimosis
d. Nekrosis dan stranggulasi penis
e. Balanopostits
f. Tumor penis

Kegagalan ejakulasi yang disebabkan kerusakan syaraf antara glans penis dan spinal cord.

KONDISI YANG MENYEBABKAN GAGALNYA FERTILISASI
Hal ini dapat disebabkan gangguan yang terjadi pada testis dan epididimis seperti :
1. Cryptorchidism
2. Degenerasi testis
3. Orkhitis dan epidimitis
4. Hipoplasia testis
5. Tumor testis
6. Aplasia ductus mesonepros
7. Lesi gld. Asesoria (vesikula seminalis dan prostate).

PEJANTAN IB
Menurut panduan protap yang dilekuarkan DIRJEN peternakan tahun 2000, yang dimaksud dengan pejantan IB adalh pejantan unggul yang memenuhi syarat teknis, reproduktif maupun kesehatan untuk dapat ditampung semennya dan diproses menjadi semen beku.
1. Syarat teknis
· Mempunyai pedigree dan sudah terseleksi
· Sehat dan bebas dari segala cacat fisik
· Tidak memeiliki cacat pada kelamin
· Memiliki genetik transmitted abilitu yang tinggi
· Produktifitas dan kualitas semen baik
2. Syarat reproduksi
· Libido tinggi
· Serving ability
· Serving capability
· Warna semen putih susu kekuningan
· Lingkar skrotum standard
· Motilitas semen yang dihsilkan >60% dan progresif >++
3. Syarat kesehatan
Bebas dari parasit (ekto, endo), penyakit hewan menular (SE, surra, anthrax, MCF, Babesiosis, Blue tongue, aujeszky’s disesase, Q-fever, Botulism, Black leg, clostfidial infectious) serta telah dilakukan pengujian secara labolatoris terhadap penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui semen (IBR, Ezootic Bovine leucosis, Leptospirosis, brucellosis, TBC, Trichomoniasis, Vibriosis, Pratuberculosis dan Jembrana untuk sapi bali.

MANAJEMEN PEMELIHARAAN PEJANTAN
1. Bull investigation test
· Pemeriksasan fisik
· Tingkah laku seksual
· Analisa semen
· Processing semen
· Sertifikasi
2. Pemberian pakan
· HMT 10% berat badan/ ekor/hari yang diberikan pada pagi dan sore
· Konsentrat 1% BB/ekor/hr diberikan pagi dan sore. Kadar protein kasar 15-18% dan lemak 4-8%.
3. Perawatan kesehatan
· Kebersihan ternak
· Perawatan kuku (Min/3 bln)
· Pencukuran rambut
· Vaksinasi
· Pem. Labolatoris

PROSES PRODUKSI SEMEN BEKU
1. Penampungan semen
2. Pemeriksaaan semen segar
3. Pemeriksaan konsentrasi
4. Printing straw

Indentifikasi straw
JENIS PEJANTAN + STRAW

· Brahman = Biru tua
· Madura = Hijau muda
· ONGOLE = BIRU TUA
· Simental = Putih trasparan
· Limousine = Merah muda
· Brangus = Hijau tua
· Angus = Salem
· Hereford = Coklat tua
· FH = Abu-abu
· Kerbau = Unggu
· Kambing = Kuning hitam
· Domba = Kuning

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SUMMARIES OF STERILITY CONTROL ON LIVESTOCK"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.