Kemajuan Sektor Peternian Peternakan India, Seminar Prof. A. Jalaludeen

Kemajuan Sektor Peternian Peternakan India, Seminar Prof. A. Jalaludeen



Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengikuti seminar yang pematerinya adalah profesor sekaligus former director of academics and research dari Kerala Veterinary and Animal Sciences University, Pookade, India, beliau Prof. A. Jalaludeen. Pada kesempatan tersebut, beliau banyak menjelaskan tentang kehebatan india yang menjelma menjadi sebuah negara yang memiliki kekuatan dibidang peternakan dan pertanian setara Brazil dan Australia. Pada kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan bertanya dan pertanyaan saya, “Apa kuncinya sampai India bisa menjadi seperti Itu?”. Namun beliau hanya menjawab secara global, tidak mendalam seperti yang saya harapkan, mungkin karena waktu yang terbatas.
Para pembaca sekalian India, dahulunya mereka adalah negara yang tergantung dengan produksi pangan negara lain, mereka mengimpor komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan negaranya, akan tetapi saat ini India menjadi salah satu penghasil terbesar komoditas pangan di dunia. Bahkan sebagai juara eksportir beras dunia mengalahkan Vietnam dan Thailand. Mengapa India dengan jumlah penduduk terbesar ke-2 di dunia itu mampu menjadi penghasil terbesar komoditas pangan tingkat dunia? Bagaimana bisa ??

Kemajuan Sektor Agraris India

Sebelum pertengahan 1960-an India mengandalkan impor dan bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, dua tahun kekeringan yang parah pada tahun 1965 dan 1966 meyakinkan India untuk mereformasi kebijakan pertanian, dan bahwa India tidak bisa bergantung pada bantuan asing dan impor dari negara asing untuk memenuhi kebutuhan  pangan negerinya. India mengadopsi reformasi kebijakan yang difokuskan pada tujuan swasembada gandum yang merupakan bahan makanan pokok di samping beras. Hal ini mengantar pada Revolusi Hijau di India. Dimulai dengan keputusan mengadopsi bibit unggul, varietas gandum tahan hama dan dengan pengetahuan pertanian yang lebih baik, India berupaya meningkatkan produktivitas pertaniannya.

Lebih dari 50 tahun sejak kemerdekaannya, India telah membuat kemajuan besar menuju ketahanan pangan. Jumlah penduduk di India telah meningkat tiga kali lipat. Seiring dengan itu, produksi gandum telah meningkat lebih dari empat kali lipat. Upaya yang dilakukannya ialah mendukung kebijakan makro di bidang pertanian baik dari segi infrastruktur maupun dari segi sumberdaya manusianya. India sangat tergantung musim karena secara geografis beberapa wilayah di India memiliki iklim yang berbeda-beda sehingga produktivitasnya pun berbeda-beda. Dari segi infrastruktur, India memfokuskan pada sistem irigasi yang memerlukan modal dalam jumlah besar seperti bendungan besar, kanal panjang dan sistem irigasi skala besar lainnya yang berbasis pada investasi publik.

Antara tahun 1951 dan 1990, hampir 1.350 irigasi besar dan menengah dimulai dan sekitar 850 telah diselesaikan hampir di seluruh wilayah India. Jika bukan karena keterlibatan pemerintah yang besar dalam menyimpan air untuk irigasi pertanian, maka dipastikan banyak daerah yang akan mengalami kekeringan karena pertanian di India sangat bergantung pada musim. Ketergantungan pada musim hujan ini cukup berisiko karena rata-rata curah hujan yang diterima bervariasi di setiap daerah.

Dari segi sumber daya manusianya, India mendirikan institusi dan universitas pertanian dalam jumlah yang banyak. Ada sekitar 22 institusi atau universitas khusus cakupan pertanian di India seperti Indian Agricultural Research Institute, Allahabad Agricultural Institute,  National Dairy Research Institute, Maharashtra Animal & Fishery Sciences University, Tamilnadu Veterinary And Animal Sciences University, Orissa University of Agriculture and Technology dan lain sebagainya. Belum lagi jurusan pertanian yang ada pada universitas pada umumnya. Sedangkan di Indonesia hanya ada satu yaitu Institut Pertanian Bogor. Lainnya bersumber dari jurusan pertanian yang ada pada universitas pada umumnya.

Produktivitas pangan di Indonesia dalam 10 tahun terakhir masih tetap tidak meningkat secara signifikan. Salah satunya disebabkan kondisi infrastruktur irigasi yang sudah rusak parah, penyerapan tenaga kerja yang menurun drastis, faktor kepemilikan lahan dan teknologi pengolahan pasca panen. Penyerapan tenaga kerja bidang pertanian menurun drastis dari tahun 1976 yang mencapai 64,16 persen dan kini hanya mampu menyerap 33 persen saja. Adapun faktor minimnya kepemilikan lahan dan juga teknologi pasca panen masih menjadi kendala terbesar. Seperti contohnya saat musim panen bulan Mei, Juni, dan Juli produktivitas jagung nasional mencapai surplus nemun kelebihan stok tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan selama sembilan bulan setelahnya.

Petani/Peternak menjerit

Tulang punggung ketahanan pangan adalah Petani/Peternak. Namun, mereka selalu dalam posisi sulit, terutama jika terkait dengan harga pangan dalam negeri. Petani/Peternak sering tidak menerima keuntungan besar meskipun harga pangan dalam negeri naik tinggi. Di sisi lain, apabila OPINI harga pangan dianggap terlalu tinggi dan membahayakan konsumen, kebijakan yang diambil pemerintah seringkali tidak berpihak pada kepentingan Petani/Peternak. Contohnya kebijakan impor yang justru membuat produksi Petani/Peternak kurang laku. Sebenarnya pemerintah mengalami kesulitan dalam mengambil kebijakan karena harus sama-sama memikirkan konsumen dan Petani/Peternak dan juga merealisasikan target yang sudah ditetapkan. Namun seberat apapun masalah pasti bisa terpecahkan. Pasti ada jalan keluar. Buktinya, India dengan negara berpenduduk 1,3 miliar yang kegiatan pertaniannya bergantung pada musim saja bisa sukses, jangan sampai kita yang berpenduduk 263 juta dengan tanah yang subur dan iklim yang menunjang bergantung kepada impor. Oleh karena itu, kita berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan pro-Petani/Peternak karena meski bagaimanapun kita bergantung pada Petani/Peternak. Jika kita tidak menghargai Petani/Peternak maka wajarlah jika kebijakan impor terus dilakukan pemerintah tanpa melihat adanya dampak jangka panjang yang akan mengancam kestabilan dan kemakmuran bangsa. Adapun Kebijakan pro Petani/Peternak tersebut diantaranya:
1.        Menjaga agar harga harga yang diterima Petani/Peternak tidak merosot, terutama pada waktu gagal panen. Kesetabilan harga produksi pertanian harus diperhatikan, hal ini sebagai wujud atas penghargaan kerja keras para Petani/Peternak di bidang pertanian.
2.        Melarang semua pihak untuk mengkonversi lahan sawah. Pemerintah diharapkan untuk lebih memperhatikan kepentingan Petani/Peternak dibandingkan para pengusaha, hal ini dikarenakan keuntungan yang didapat dari Petani/Peternak bisa menjadi manfaat bagi semua kalangan dibandingkan dengan keuntungan pengusaha yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir atau sekelompok orang.
3.        Menyediakan bantuan modal tanpa bunga, baik operasional maupun untuk investasi (jangka panjang). Pemberian bantuan modal bagi para Petani/Peternak perlu dilakukan guna memberikan peluang bagi para Petani/Peternak untuk mengembangkan pertanian atau bisnis pertanian lainnya.
4.        Merehabilitasi dan memperluas jaringan irigasi. Perluasan saluran irigasi sangat diperlukan karena hal ini akan memudahkan bagi Petani/Peternak dalam mengelola lahan pertaniannya.

Selain kebijakan yang pro-Petani/Peternak, konsumen pun harus senantiasa mengonsumsi produk-produk lokal Indonesia. Dengan membeli hasil bumi lokal berarti kita ikut menghidupi para Petani/Peternak dan turut mengembangkan senyum serta memberi secercah harapan bagi keluarga Petani/Peternak Indonesia



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kemajuan Sektor Peternian Peternakan India, Seminar Prof. A. Jalaludeen"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.