Lalat Ganggu Kesehatan Ayam


Lalat Ganggu Kesehatan Ayam 




Musim hujan merupakan salah satu kondisi yang tepat bagi beberapa kuman patogen untuk berkembang dan menjadi ancaman terhadap kesehatan ayam. Di saat hujan, kelembaban akan semakin tinggi karena genangan air terjadi dan cahaya matahari berkurang.
Jika dilihat perubahan lingkungan yang terjadi, tidak tertutup kemungkinan bagi beberapa kuman patogen untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya bakteri, jamur, virus, protozoa dan endoparasit yang diuntungkan. Ektoparasit seperti nyamuk dan lalat juga akan berkembang biak dengan baik.
Ektoparasit dalam ilmu kesehatan berperan penting membantu beberapa kuman untuk berkembang hingga berpindah tempat. Seperti halnya lalat, ektoparasit ini telah diketahui berperan sebagai vektor penyakit, di mana akan menjadi agen pembawa dan mampu menyebarkan penyakit. Oleh karena itu perhatian yang lebih sangat diperlukan karena kehadiran lalat sering kali menimbulkan gangguan lingkungan sekitar.
Populasi spesies lalat diperkirakan sekitar 100.000 ekor, namun dari sekian banyak spesies hanya beberapa ekor saja yang sering dijumpai dan perlu diwaspadai. Spesies penting itu di antaranya, Ophyra chalcogaster, Phenisia sp, Stomaxys celeitrans, Fannia canicularis dan Musca domnestica.
Dari lima spesies yang dilansir di atas, menurut Koesharto et al. (1986) bahwa lalat rumah Musca domestica (Diptera: Muscidae) dan lalat Ophyra chalcogaster merupakan spesies yang sering ditemui di peternakan ayam. Pasalnya, kotoran unggas merupakan media yang sangat baik untuk perkembangan telur serta sumber protein untuk pematangan telur lalat.
Lalat rumah merupakan jenis lalat yang terutama menimbulkan masalah dalam industri peternakan unggas (Axtell dan Arends, 1990) dan merupakan lalat yang paling tinggi populasi dan berpotensi sebagai hama (Pestiferous fly), serta menjadi target utama dalam program manajemen dan pengendalian (Axtell, 1986).
Sebagai hama, diperkirakan bahwa lalat rumah akan menimbulkan banyak kerugian bagi peternak, seperti yang dilansir oleh Dewi (2006) dalam tulisannya, tentang jumlah lalat rumah (Musca domestica) yang berhasil menjadi dewasa pada feses ayam yang diberi pakan serbuk kunyit (Curcuma domestica val.) menyatakan bahwa keberadaan lalat bisa mengganggu ketenangan ayam, menyebabkan feses menjadi basah dan menghasilkan gas amoniak (NH3) yang berdampak terhadap pernapasan, meninggalkan bercak hitam pada kandang serta telur unggas.
Perlu dicermati bersama bahwa lalat rumah juga berperan sebagai sebagai vektor mekanis dari bibit-bibit penyakit seperti virus, bakteri, kista protozoa dan telur cacing. Seperti yang dipublikasikan oleh Howard dan Wall (1996), menurutnya lalat dapat berperan sebagai transmitter dan vektor beberapa agen penyakit unggas.
Cara menyebarkan kuman, dengan kebiasaannya yang memuntahkan cairan lambung sehingga muntahan itu dapat mencemari pakan mau pun air minum ayam. Adanya pulvili, labela dan sejumlah bulu -bulu halus pada bagian tubuhnya memungkinkan lalat rumah berperan sebagai penyebar penyakit (Levine 1990). Tidak hanya mengancam kesehatan ayam, keberadaan lalat rumah juga bisa menganggu kesehatan pegawai di kandang hingga masyarakat di sekitar lahan peternakan.
Lalat yang over populasi di area peternakan perlu diatasi, seperti yang dinyatakan sebelumnya bahwa dampak buruk tidak hanya dialami oleh kesehatan ayam, gangguan kualitas produksi akan tetapi juga berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk pengendalian kasus ini seperti perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan.
Mengurangi atau menghilangkan tempat hidup lalat dengan selalu menjaga kebersihan kandang dari kotoran ayam, lantai kandang harus kedap air, kadang perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering, tumpukan kotoran yang telah menjadi pupuk sebaiknya ditutup dengan plastik atau bahan lain yang berfungsi sebagai anti lalat.
Sampah basah dan sampah organik harus dikelola dengan baik, sampah seharusnya dibakar atau bisa saja dibuang ke tempat sampah yang tertutup. Lumpur organik dari air buangan disaluran terbuka harus dibuang, air kotor yang keluar melalui outlet ke saluran dikurangi, rembesan dari lubang penampungan air harus dibuang.
Tiga langkah yang digunakan untuk membasmi lalat secara langsung yaitu cara fisik, kimiawi dan biologi. Fisik seperti pemasangan kawat atau plastik, menggunakan perangkap dan pembunuh elektronik (light trap with electrocutor), pemasangan umpan kertas lengket berbentuk pita atau lembaran (sticky tapes), maupun pemakaian fly trap.
Secara kimia, pemberantasan lalat dengan insektisida harus dilakukan hanya untuk periode yang singkat dan sangat diperlukan. Aplikasi yang efektif dari insektisida dapat secara sementara memberantas lalat dengan cepat. Penggunaan pestisida ini dapat dilakukan melalui cara umpan (baits), penyemprotan dengan efek residu (residual spraying) dan pengasapan (space spaying). Cara biologi, dengan memanfaatkan sejenis semut kecil berwana hitam Phiedoloqelon affinis untuk mengurangi populasi lalat rumah di tempat sampah. Kesimpulan
Perencanaan untuk tindakan pembasmian sebaiknya harus efektif, efisien dan konsisten. Pasalnya, lalat mempunyai kemampuan yang sangat sempurna untuk menghasilkan telur dan berkembang. Hal ini juga menjadi pertimbangan bagi peternak untuk merencanakan upaya pengendalian populasi lalat.
Pengendalian lalat dapat dilakukan dengan cara mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh lalat tersebut. Saat ini banyak sekali metode pengendalian lalat yang telah dikenal dan dimanfaatkan manusia. Prinsipnya pengendalian itu dapat mencegah perkembangbiakan lalat yang dapat menimbulkan gangguan terhadap bisnis perunggasan.
Hal itu dapat dilakukan dengan cara mempersulit pola hidup, mengurangi sumber yang menarik bagi lalat, kebersihan lingkungan mesti terjaga, membuat saluran air limbah yang baik dan menutup tempat sampah, hingga penggunaan bahan kimia

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lalat Ganggu Kesehatan Ayam "

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.