PENYAKIT IMUNOSUPRESI MENDOMINASI

PENYAKIT IMUNOSUPRESI MENDOMINASI


 
Imunosupresi adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh terdepres sehingga memudahkan masuknya agen-agen patogen lainnya. Faktor pendepres ini bisa bermacam-macam, misalnya saja penyakit, toksin, kondisi lingkungan, stres, dan lain sebagainya.
Drh. Lusiana Rismorini, Technical Service Manager PT. Lohmann Animal Health Indonesia mengungkapkan bahwa mulai dari awal tahun 2013, di beberapa wilayah di Sumatra dan Jawa memang dilaporkan munculnya kasus penyakit imunosupresi seperti Gumboro pada broiler, serta Marek pada breeder dan layer. Selain itu, dijumpai juga gejala kekerdilan/lambat tumbuh yang diduga juga dipicu oleh kondisi imunosupresi termasuk di antaranya adalah CAV.
Mengenai alasan mengapa baru sekarang ini CAV menjadi perhatian para pelaku perunggasan, drh. Komang Budiarta, Health Disease Control Manager PT. Super Unggas Jaya mengingatkan bahwa CAV adalah penyakit yang ditularkan dari induk ke anak secara vertikal, sehingga jika berbicara mengenai penyakit ini haruslah dilihat secara keseluruhan mulai dari atas yaitu dari tingkatan grand parent (GP), parent stock (PS), hingga ke final stock (FS).
“Hal ini dikarenakan, efek dari penyakit ini tidak langsung terlihat pada GP atau PS-nya melainkan pada FS-nya sehingga diagnosanya membutuhkan waktu lebih lama karena diagnosa tidak bisa dilakukan secara sepotong-sepotong. Berbeda dengan AI, ND atau IB di mana jika yang terserang adalah induknya maka gejala klinis juga akan terlihat pada induk sehingga lebih mudah dilakukan diagnosa,” terang Komang.
Di breeding, CAV tidak menunjukkan gejala sama sekali, hanya memang penyakit ini bersifat imunosupresi sehingga yang akan terlihat justru gejala dari penyakit yang lain atau penyakit sekundernya. Jika di lingkungan kandang tersebut ada AI, ND, IB atau penyakit lainnya, maka yang akan terlihat adalah gejala penyakit tersebut.
Ini adalah sifat virus CAV, jadi jika ingin menangani penyakit ini harus terlebih dahulu dilakukan surveillance dengan mengukur titer antibodi. “Sebenarnya saya yakin Indonesia sudah punya data itu, tapi karena selama ini tidak menimbulkan deplesi atau kerugian lainnya sehingga kita lebih fokus pada ND, AI atau IB yang kerugian ekonominya lebih besar,” ujar Komang.
Mendiagnosa CAV bukanlah hal yang mudah, lanjut Komang. Dibutuhkan beberapa teknik diagnosa, khususnya dengan pemeriksaan lab yang lebih akurat, baik dengan ELISA maupun pemeriksaan hematokrit selain dilihat dari performa DOC itu sendiri. Walaupun di tingkat peternak ada komplain bahwa ayam pertumbuhannya lambat, pucat dan banyak kematian baik di boks maupun di masa-masa awal pemeliharaan, tidak bisa langsung dinyatakan bahwa itu disebabkan oleh CAV. Karena kualitas DOC yang sampai di kandang dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya hatchery, transportasi, hingga manajemen di kandang juga sangat mempengaruhi.
Seberapa besar indikasi CAV sudah ada di breeding di Indonesia harus dibuktikan dengan surveillance baik di breeding sampai di broilernya. “Khusus untuk SUJA sendiri hal ini selalu dilakukan. Jadi kita bisa melihat jika suatu farm tidak divaksin namun terdapat titer terhadap CAV, berarti ada virus CAV di lapangan. Seberapa parahnya dilihat dari titer antibodinya. Itu minimal hal pertama yang harus dilakukan dan saya yakin perusahaan lain juga melakukan hal yang sama,” jelas Komang.
Hal senada juga diungkapkan oleh drh. Rosalia Ariyani H.A, Technical dan Customer Manager PT. Sanbe Farma. Menurut Rosa, kejadian AI terutama di komersial layer sedikit meningkat. Rosa juga menuturkan bahwa saat ini kondisi ayam terlihat lebih rentan terhadap berbagai penyakit, tidak hanya AI, tetapi juga IB dan Gumboro. Melihat kondisi ini, diduga terdapat faktor pencetus mudahnya penyakit-penyakit tersebut menyerang bahkan pada ayam yang sudah dilakukan vaksinasi.
“Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan baik dengan histopatologi maupun serologis, hasilnya agak mengejutkan memang karena di balik kasus-kasus yang mencuat seperti AI, IB atau Gumboro tersebut, ternyata terdapat faktor imunosupresi,” terang Rosa.
Saat ini juga terdapat banyak kasus yang tidak biasa. Hal ini diungkapkan oleh drh. Tarofik, Sales Manager PT. Caprifarmindo Laboratories. Misalnya saja kasus kegagalan vaksinasi. Ia mencontohkan sebuah kasus pada layer, yang divaksinasi dengan vaksin IB killed pada umur produksi sekitar 50%, kemudian dicek titernya 4-5 minggu kemudian, ternyata hasilnya sudah “acak”, padahal menurut Tarofik harusnya untuk vaksin killed saat itu adalah puncakpuncaknya.
“Ini ditengarai ada faktor pencetusnya, salah satu yang diduga adalah faktor imunosupresan, namun untuk mengetahui apa pastinya faktor itu harus diteliti lebih jauh,” jelas Tarofik.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PENYAKIT IMUNOSUPRESI MENDOMINASI"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.