Protektivitas Vaksin Flu Burung

Protektivitas Vaksin Flu Burung


Keberadaan penyakit Avian Influenza (AI) sebenarnya menjadi sebuah masalah besar bagi bangsa Indonesia maupun dunia, terutama jika dikaitkan dengan kondisi wabah. Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza yang tergolong dalam kelompok virus RNA dengan segmen serta memiliki envelope. Virus ini termasuk dalam family Orthomyxoviridae. Virus influenza diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu: A,B, dan C.
Virus infleunza A memiliki kemampuan untuk menginfeksi manusia, mamalia dan unggas, sedangkan virus influenza B dan C hanya menginfeksi pada manusia. Virus influenza A terdiri dari 16 subtipe berdasarkan pada gen Hemaglutinin (HA) dan 9 subtipe berdasarkan pada gen Neuraminidase (NA).
Terhitung sejak tahun 1997, keberadaan virus avian influenza subtipe H5N1, memiliki tingkat patogenitas yang tinggi. Terbukti dengan adanya infeksi pada manusia di Hongkong. Padahal sebelumnya virus ini hanya mampu untuk menginfeksi pada unggas. Virus AI dengan subtipe H5N1 ini menyebabkan angka kesakitan serta tingkat kematian yang tinggi, pada waktu menginfeksi manusia. Virus ini memiliki potensi untuk menyebabkan pandemi dengan tingkat morbiditas, mortalitas yang tinggi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar.
Potensi ini disebabkan karena virus ini mampu menginfeksi pada peternakan dan populasi burung liar, yang sekarang sudah menyebar ke Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Di Indonesia virus AI baru menginfeksi pada bulan November 2003. Virus ini juga mampu menginfeksi babi, peternak babi dan pekerja di peternakan unggas. Virus AI di Indonesia terbagi menjadi tiga subclade: 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3. sedang yang paling dominan bersirkulasi di Indonesia adalah subclade 2.1.3.
Salah satu alternatif untuk penanganan pencegahan lebih lanjut adalah dengan program vaksinasi, yang berguna juga untuk mencegah terjadinya gejala klinis dan kematian pada unggas. Serta menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan pangan. Jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah penyebaran virus flu burung adalah vaksin influenza konvensional dan vaksin influenza dengan menggunakan teknologi reverse genetic.
Teknologi reverse genetic
Vaksin influenza konvensional terdiri dari vaksin inaktif (homolog dan heterolog) serta vaksin dengan menggunakan virus influenza yang dilemahkan. Sedang reverse genetic adalah salah satu teknologi untuk memproduksi vaksin flu burung dengan menggunakan cDNA yang diklon. Universitas Airlangga melalui Avian Influenza Zoonosis Research Center (Laboratorium Animal BSL-3) pada tahun 2011 telah menghasilkan seed vaccine dengan menggunakan teknologi reverse genetic untuk melindungi infeksi virus flu burung pada manusia, seed itu selanjutnya disebut : H5N1-RG UA. Namun, mekanisme protektif berdasarkan respon imun baik humoral maupun seluler terhadap H5N1-RG UA belum banyak dikaji.
Selain itu, mekanisme daya hambat seed vaccine H5N1-RG UA terhadap berbagai protein virus flu burung melalui analisis proteomik juga belum banyak diketahui. Dari situlah kemudian Dr. Muhammad Yusuf Alamadi, S. Si, M.Kes, peneliti muda asal Universitas Airlangga Surabaya, melakukan penelitian dengan dua rumusan penting : 1) Mengetahui mekanisme proteksi daya hambat H5N1-RG UA terhadap virus flu burung subclade 2.1.3, 2) Mengetahui perbedaan mekanisme proteksi dan daya hambat antara H5N1- RG UA dan vaksin H5N1 yang digunakan untuk unggas.
Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif, dengan rancangan penelitian menggunakan pre-eksperimental serta menggunakan jenis time series post test only control group design. Penelitian ini melingkupi dua tahap, tahap pertama meliputi vaksinasi H5N1- RG UA pada ferret, uji serologis, uji ELISA untuk mengetahui respon humoral dan seluler. Karakteristik protein serum ferret setelah dilakukan vaksinasi menggunakan H5N1-RG UA dengan menggunakan 1D 2D, reaktif protein antara virus flu burung yang menginfeksi pada manusia dan virus flu burung yang menginfeksi pada unggas dengan serum ferret setelah dilakukan vaksinasi menggunakan H5N1-RG UA dengan menggunakan 2D western blotting.
Sedang tahap 2 bertujuan untuk mengetahui perbedaan mekanisme protektif dan daya hambat H5N1-RG UA dengan vaksin H5N1 pada unggas. Prosedur penelitian yang dilakukan adalah vaksinasi dengan menggunakan vaksin H5N1 pada unggas. Uji serologis, uji ELISA untuk mengetahui respon humoral dan seluler, karakteristik protein serum unggas setelah dilakukan vaksinasi dengan menggunakan vaksin H5N1 pada unggas dengan menggunakan 1D dan 2D, reaktif protein antara virus flu burung yang menginfeksi pada manusia dan virus flu burung yang menginfeksi pada unggas dengan serum unggas setelah dilakukan vaksinasi menggunakan vaksin H5N1 pada unggas dengan menggunakan 2 D western blotting.
Dari penelitian yang ada, disimpulkan bahwa pasca vaksinasi H5N1-RG UA pada ferret memiliki titer antibodi di atas yang ditetapkan oleh WHO, sebelum dan sesudah dilakukan paparan virus. Hal ini menunjukkan bahwa antibodi pasca vaksinasi bersifat protektif. Pasca vaksinasi H5N1-RG UA pada ferret mampu meningkatkan produksi IgG dan TNf-alfa.
Karakteristik serum ferret pasca vaksinasi H5N1-RG UA berdasarkan 1D SDS-PAGE didapatkan ekspresi protein dengan berat molekul 13, 01 kDa, 21,2 kDa, 48,2 kDa dan 78,7 kDa. Karakteristik serum ferret pasca vaksinasi H5N1-RG UA berdasarkan nilai pI (point isoelectric) didapatkan ekspresi protein matriks, protein Hemaglutinin (HA), protein Polimerase Basic 2, protein Polimerase Basic 1 (PB1) dan protein dengan berat molekul di atas > 200 kDa, dengan nilai iso elektrik yang berbeda. Pasca vaksinasi H5N1-RG UA pada ferret memiliki mekanisme daya hambat terhadap virus flu burung yang menginfeksi pada unggas, dengan ekspresi protein Hemaglunin dan PB1. Pasca vaksinasi H5N1- RG UA pada ferret memiliki mekanisme proteksi dan daya hambat terhadap virus flu burung yang menginfeksi pada manusia dengan ekspresi protein Hemaglutinin PB1, PB2, PA >200 kDa dan > 300 Kda.
Vaksin H5N1 untuk unggas memiliki daya hambat terhadap virus flu burung yang menginfeksi pada unggas dengan ekspresi protein HA, NA, PB1. Selain itu, daya hambat vaksin H5N1 untuk unggas terhadap virus yang menginfeksi pada manusia dengan mengekspresikan protein PB1, vaksin H5N1-RG UA bisa menghasilkan imunitas pada hewan percobaan dengan mekanisme meningkatkan produksi IgG Dan TNf alfa, ekspresi HA,NA,PB1,PB2 PA, >200 kDa dan > 300 kDa.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Protektivitas Vaksin Flu Burung"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.