CACING, SANG PENGGANGGU

          CACING, SANG PENGGANGGU




Cacing merupakan parasit yang disebut sebagai endoparasit karena hidup dalam tubuh induk semang. Sebetulnya cacing tidak menimbulkan sakit atau kematian pada unggas, tetapi sangat mengganggu produktivitas unggas. Gangguan tersebut berupa gangguan pertumbuhan maupun produksi telur.
Diketahui bahwa ada tiga kelompok cacing, yakni cacing gilig (nematoda), cacing pipih atau pita (cestoda) dan cacing daun atau hati (trematoda). Yang menimbulkan gangguan pada ayam adalah jenis cacing gilig dan pita. Dalam siklus hidupnya, telur cacing keluar bersama kotoran ayam dan bercampur dengan litter. Ayam terinfestasi atau kemasukan cacing dalam bentuk telur atau larva melalui mulut. Telur atau larva ini berkembang hingga menjadi dewasa dalam tubuh tergantung siklus hidup masing-masing cacing. 

Cacing gilig
Cacing jenis ini paling sering ditemukan pada ayam dan macamnya pun cukup banyak. Disebut gilig berdasarkan bentuknya yang bulat dan tidak bersegmen. Cacing mampu menimbulkan kerusakan pada organ atau jaringan tempat hidupya. Organ yang menjadi tempat tinggal cacing antara lain seperti terlihat pada Tabel.
Mata dan selaput mata merupakan tempat hidup Oxyspirura mansoni. Cacing dapat ditularkan melalui larvanya yang termakan oleh ayam. Ayam yang terinfeksi merasakan gatalgatal yang mengakibatkan matanya digaruk sehingga berwarna merah akibat radang mata yang berat.
Gangguan pernapasan pada ayam paling sering dijumpai akibat ayam terserang CRD atau snot. Ternyata gangguan pernapasan pun dapat diakibatkan oleh adanya cacing yang hidup dalam tenggorokan, bronchi atau bronchioli. Akibatnya ayam susah bernapas. Tidak jarang terdengar suara ngorok dan mulutnya menganga. Cacing pengganggu ini adalah Syngamus trachea yang disebut juga cacing merah atau cacing garpu. Kematian dapat terjadi karena tenggorokannya tersumbat oleh cacing.
Saluran pencernaan seperti tembolok tidak luput menjadi tempat hunian bagi cacing gilig yang bernama Capillaria annulata dan Capillaria concorta. Penularan terjadi melalui pakan, air minum atau material lain yang tercemar oleh telur cacing atau melalui perantaraan cacing tanah. Tembolok menjadi tebal disertai gangguan penyerapan pakan. Akibatnya ayam kurus dan produktivitasnya rendah.
Lambung kelenjar juga menjadi tempat hidup salah satu jenis cacing gilig yaitu Tetrameres. Cacing ini dapat dikelirukan dengan bintik darah karena bentuknya bulat seperti bola dan berwarna merah. Kecoa, belalang atau cacing tanah yang termakan oleh ayam menjadi perantara bagi penularan cacing ini.
Ascaridia galli merupakan cacing gilig yang banyak ditemukan pada ayam. Kerugian ekonomi akibat cacing ini cukup tinggi karena rusaknya dinding usus. Siklus hidup berlangsung kurang lebih 35 hari. Telur cacing keluar bersama kotoran ayam dan berkembang menjadi infektif, termakan oleh ayam lain. Setelah menetas telur berkembang menjadi larva yang “keluar-masuk menjelajah” ke dalam mukosa dinding usus. Akibatnya timbul luka dan perdarahan yang mengganggu proses pencernaan serta penyerapan nutrisi.
Produktivitas ayam turun termasuk produksi telurnya jika menyerang ayam yang telah memasuki masa produksi telur. Cacing dewasa tinggal dalam rongga usus dan menyumbat usus. Lebih jauh lagi keberadaan cacing ini meningkatkan kadar asam urat dan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh sehingga mengundang infeksi lain seperti koksidiosis dan infectious bronchitis (IB). Kalau sudah begini, ayam pun bisa mati hanya gara-gara cacing.
Selain Ascaridia galli, cacing Heterakis juga hidup dalam usus namun lebih suka menempati usus buntu. Cacing ini berperan sebagai pembawa parasit yang lain yaitu Histomonas meleagridis yang menimbulkan black head disease.

Cacing pita
Disebut cacing pita karena bentuknya yang pipih, panjang, memiliki segmen dan berwarna putih. Segmen cacing dinamakan proglotida dan kepalanya disebut skoleks. Proglotida tumbuh di belakang skoleks yang semakin ke belakang semakin tua umurnya.
Cacing tidak memiliki saluran pencernaan dan memperoleh makanan dengan cara menghisap isi usus halus ayam. Proglotida yang penuh telur cacing dapat dilepaskan setiap harinya. Melalui hewan lain seperti siput, serangga, bekicot maupun cacing tanah, proglotida ditularkan kepada ayam lain yang memakannya. Cacing pita yang sering ditemukan pada ayam adalah Davainea proglottina dan Railletina spp.

Pengendalian dan pemberantasan cacing
Selain mengundang masuknya koksidosis dan IB, adanya cacing yang menghuni tubuh ayam juga memudahkan serangan penyakit lain. Rusaknya sel-sel epitel saluran pencernaan menyebabkan penyakit viral seperti ND dan AI ikut menginfeksi, juga bakterial maupun jamur seperti Candida.
Untuk mengatasi problem cacing diberikan obat cacing, bila perlu secara berkala. Beberapa obat cacing. Namun begitu untuk mengendalikan keberadaan cacing dalam suatu kawasan peternakan tidak cukup hanya memberikan obat cacing saja. Harus disertai perbaikan tatalaksana pemeliharaan termasuk biosekuriti. Menjaga kebersihan kawasan peternakan akan mengurangi berbagai macam serangga yang dapat menjadi perantara penularan cacing. Dengan tiadanya cacing diharapkan produktivitas ayam meningkat dan memberikan keuntungan lebih besar bagi peternak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CACING, SANG PENGGANGGU "

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.