Memelihara Ayam Petelur di Musim Penghujan

Memelihara Ayam Petelur di Musim Penghujan
 
 
 

Perlu kita sadari bersama bahwa pada musim penghujan justru suhu udara lebih tinggi karena posisi matahari lebih dekat dengan wilayah Indonesia. Selanjutnya dengan curah hujan yang tinggi maka uap air yang ada di udara juga lebih tinggi, sehingga muncul sebagai kelembaban yang tinggi. Kombinasi cuaca panas pada siang hari dan cuaca gerah karena kelembaban yang tinggi pada malam hari adalah kombinasi cuaca yang sulit dihadapi oleh ayam.
Sebagai gambaran dari pengukuran suhu dan kelembaban yang dilakukan di farm yang ada di wilayah Tangerang, menunjukkan karakteristik kondisi cuaca yang hampir mewakili kondisi cuaca di Indonesia. Bahwa gambaran suhu sepanjang hari bervariasi dari suhu terendah di sekitar 22°C pada dini hari dan suhu maksimal hingga 37°C pada siang hari.
Umumnya kelembaba tinggi bisa mencapai 97% pada malam dini hari dan kelembaban bisa rendah mencapai hanya 45% pada siang tengah hari. Variasi suhu bisa mencapai 15°C dan kelembaban bisa bervariasi mencapai 52%, sedangkan suhu optimal yang menjadi ambang batas ayam adalah 28°C dan kelembaban 65%.
Dalam 24 jam ayam mengalami stres yang tinggi, siang adalah stres karena suhu panas melebihi ambang batas yang ditoleransi ayam. Sedangkan pada malam hari ayam mengalami stres karena menghadapi kelembaban yang juga melebihi ambang batas toleransi ayam. Apalah daya karena ini adalah kondisi aktual alam sebagai faktor alam yang tidak bisa siapapun melakukan perubahan. Semestinya ini sebagai pondasi dasar atau informasi dasar untuk pertimbangan dalam melakukan manajemen teknis di lapangan. Dengan mengacu pada kondisi alam akan memudahkan dalam memposisikan ayam untuk mampu menghadapi atau setidaknya meminimalkan stres sehingga efek yang kurang baik untuk ayam bisa diminimalkan.

Pengaruh cuaca pada produksi

Sebagai gambaran agar kita semakin sadar bahwa ayam sangat terpengaruh oleh kondisi cuaca. Bahwa secara umum bila suhu melebihi 30°C maka akan berpengaruh kurang baik terhadap ayam, yaitu : berat telur akan turun hingga 0,4% per °C pada suhu antara 23 dan 27°C, apabila suhu lingkungan melebihi 27°C maka berat telur akan menurun sekitar 0,8% per °C. Sebagai contoh bila ayam umur 26 minggu dengan berat telur standar adalah 60 gram maka ditempat kita karena suhu dianggap rata-rata 31°C, maka akan terjadi penurunan berat telur 0,8% kali 4 (empat) atau 3,2 % sehingga berat telur mengalami penurunan 3,2% X 60 = 1,9 gram, sehingga berat telur yang dicapai umumnya hanya 58 gram.
Selanjutnya pengaruh suhu terhadap produksi telur % HD juga nyata, bila suhu di atas 24°C sudah berpengaruh pada kenaikan % HD nya bahkan akan berpengaruh ekstrim bila suhu melebihi 28°C. Kondisi ini nyata terjadi dilapangan bahwa banyak kejadian produksi puncaknya mundur dengan kenaikan % HD yang sangat lambat. Biasanya kenaikan HD harian bisa 5-6 % namun dengan kondisi yang ada seolah-olah stagnan atau hanya terjadi kenaikan di 2-3% saja. Dengan rendahnya kenaikan % HD ini maka produksi mencapai 90% biasanya sudah melewati umur 27 minggu bahkan 28 minggu.
Pengaruh rendahnya berat telur dan % HD tentu akan berpengaruh terhadap tingkat feed conversi (FC) yang mengarah pada sisi ekonomis yaitu efisiensi. Dengan berat telur dan HD yang kurang maka diperoleh egg mass yang juga kurang sehingga FC akan tinggi. Artinya, untuk mendapatkan sejumlah kg telur memerlukan unit atau sejumlah pakan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa cuaca dengan suhu yang tinggi berpengaruh nyata terhadap tidak efisiennya produksi dan bisnis ayam petelur. Sehingga harus dicermati dan diupayakan untuk diatasi secara bersungguh-sungguh dengan menemukan teknik manajemen yang adaptif dengan kondisi yang sulit tersebut.

Pengaruh cuaca terhadap thermoregulasi

Mengapa disebut sebagai thermoregulasi, karena ayam adalah homoeothermal atau berdarah panas sehingga seluruh metabolisme ayam dipengaruhi oleh kondisi cuaca di lingkungan sekitarnya. Bahwa seluruh mekanisme metabolisme dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Secara konsep bahwa yang paling penting dari respon fisiologis ayam untuk lingkungan adalah menjaga kondisi homeothermic (suhu konstan tubuh) selama ada paparan suhu ekstrim.
Ayam dalam menanggapi paparan suhu dingin secara fisiologis dengan meningkatkan tingkat metabolisme internal untuk menjaga suhu tubuh mereka tetap normal. Selanjutnya dalam menanggapi selama paparan suhu panas, ayam akan memiliki masalah yang lebih sulit dalam menjaga diri agar tetap suhu tubuhnya dingin dan tetap menjaga homeothermic tubuh. Karena ayam tidak memiliki kelenjar keringat maka tidak bisa berkeringat, ayam harus mengandalkan pendinginan dengan penguapan melalui mulutnya sehingga timbul terengahengah agar tetap dingin. Kondisi terengah-engah ini disebut sebagai panting.
Ayam akan panting karena pengaruh suhu yang tinggi maupun oleh kelembaban yang tinggi. Kondisi panting ini akan menyebabkan kondisi yang sulit secara internal ayam karena akan mengalami pernapasan yang alkalosis. Disebut alkalosis karena respon fisiologis ditandai dengan peningkatan pH darah bersama dengan penurunan konsentrasi darah CO2.
Pengaruh alkalosis ini menyebabkan gangguan pada keseimbangan asambasa darah dan menghasilkan penurunan level kalsium darah dan bikarbonat yang diperlukan untuk produksi kulit telur atau dalam proses yang disebut kalsifikasi. Dengan demikian, kondisi ini akan mengganggu pada proses kalsifikasi sehingga terjadi telur dengan kulit tipis.
Kondisi ini juga akan berpengaruh terhadap nilai efisiensi karena dengan terjadinya peningkatan jumlah telur yang tipis akan menyebabkan telur retak atau pecah atau juga warna kulit telur yang pudar atau kurang coklat. Kondisi telur yang seperti ini jelas akan mempunyai harga jual yang rendah, sehingga benar perlu diperhatikan masalah thermoregulasi ini juga terhadap kualitas telurnya.
Demikian nyata pengaruh cuaca terhadap nilai ekonomis atau efisiensi di masa produksi, untuk itu perlu dilakukan penanganan atau langkah-langkah antisipasi, sebagai berikut :
1.  Memahami mekanisme thermoregulation memungkinkan kita untuk mengurangi efek panas pada pertumbuhan dan produksi. Karena dalam iklim di mana suhu dan kelembaban yang sangat tinggi menyebabkan thermoregulation menjadi sangat sulit.
2.  Pertukaran panas dengan lingkungan udara lokal akan menurun ketika suhu meningkat. Sehingga terjadi tingkat kerja jantung dan pernapasan yang lebih tinggi menyebabkan meningkatnya hilangnya air dari saluran pernapasan. Dengan demikian diperlukan pemberian air dingin maksimum sekitar 25°C dengan jumlah kebutuhan ayam sekitar 300 ml/hari, sehingga akan mengurangi lebih dari 2% jumlah panas yang akan dibuang.
3.  Mengurangi pengaruh cuaca dengan melakukan modifikasi perkandangannya, dengan membuat isolasi atap, menghindari penetrasi langsung sinar matahari dengan atap yang lebar, desain kandang yang memungkinkan ayam bisa meletakkan kepala mereka keluar dari kandang baterai agar bisa membantu proses kehilangan panas melalui jengger, serta memperhatikan jumlah kepadatan yang rendah sehingga memudahkan terjadinya evaporasi atau proses pembuangan panas tubuh melalui evaporasi. Selain itu bisa juga memberikan pergerakan angin dengan kecepatan udara 0,15 m/detik akan mengurangi suhu tubuh efektif sekitar 1°C. Pada kondisi terakhir ini menjadi dasar penting dalam menggunakan kandang closed house.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memelihara Ayam Petelur di Musim Penghujan"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.