MENGENAL PENYAKIT CACING PADA AYAM

 MENGENAL PENYAKIT CACING PADA AYAM


Tingginya permintaan daging ayam mengharuskan para peternak untuk terus meningkatkan ketersediaannya. Peternak dituntut dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi. Salah satunya adalah dengan pemeliharaan yang baik dan waspada akan datangnya penyakit. Penyakit pada ayam dapat disebabkan karena bakteri, virus maupun parasit. Ketiganya memiliki ciri dan cara pengobatan yang berbedabeda tergantung dari sejauh mana mereka menyerang. Apabila keberadaan penyakit ini tidak segera diatasi maka usaha untuk pemenuhan permintaan daging ayam hanyalah sebuah mimpi belaka. Hal ini disebabkan karena tingkat mortalitas akan tinggi dan terjadi gagal panen. Jadi kejelian akan adanya gejalagejala penyakit harus selalu dilakukan oleh peternak agar datangnya penyakit bisa segera ditanggulangi.
Penyakit yang disebabkan oleh parasit yaitu cacing atau dikenal dengan helminthiasis. Seperti penyakitpenyakit yang lain, helminthiasis dapat menyebabkan penurunan berat badan, penurunan produksi telur dan pada akibat yang fatal adalah meningkatkan nilai mortalitas. Tidak seperti penyakit viral dan bakterial, helminthiasis ini kurang diperhatikan oleh peternak karena tidak menunjukkan gejala-gejala yang jelas dan tidak menyebabkan kematian mendadak. Gejala tersebut akan tampak jelas apabila jumlah cacing yang menyerang organ semakin bertambah banyak. Keadaan ini biasanya dapat berakibat pada penurunan produktivitas dan menyebabkan kematian.
Jenis cacing yang menyerang ayam terdiri dari 3 kelas yaitu nematoda, trematoda dan cestoda. Ketiga kelas cacing ini pada umumnya menyerang unggas pada organ yang berbeda-beda. Jika menyerang saluran pencernaan, maka pada bedah bangkai akan ditemukan cacing pada proventrikulus, usus ataupun sekum. Organ tersebut terlihat berdarah, terjadi radang dan dinding ususnya menebal. Hal itu dikarenakan cacing menembus mukosa usus sehingga dindingnya menjadi tebal dan kasar yang kemudian menjadi nodul-nodul. Keadaan ini akan menjadi semakin parah jika cacing sudah menembus dan melukai dinding usus sehingga terjadilah peradangan. Apabila jumlah populasi cacing dalam saluran pencernaan terlalu banyak, maka proses penyerapan nutrisi makanan pada hewan yang terinfeksi akan terganggu. Cacing tersebut akan berkompetensi dalam mengambil sari makanan sehingga akan terjadi penurunan berat badan atau gangguan pertumbuhan. Selain itu banyaknya cacing juga dapat mengganggu proses absorbsi sari-sari makanan karena cacing mengeluarkan zat anti enzim.
Kelas pada cacing adalah sebagai berikut:
1.    Nematoda
Penyakit cacingan yang disebabkan oleh cacing nematoda disebut dengan nematodosis. Jenis cacing nematoda di antaranya adalah Oxyspirura sp, Syngamus trakhea, Capillaria sp, Dyspharynx, Tetrameres, Cyrnea, Cheilospirura dan Omidostomum, Ascaridia sp., dan Heterakiigs gallinarum. Cacing nematoda kebanyakan menyerang pada unggas ayam, itik, kalkun dan burung baik liar maupun dalam sangkar.
a. Oxyspirura sp yang dikenal dengan sebutan cacing mata atau eye worm memiliki ukuran kurang lebih 2 cm, hidup di saccus conjunctiva sehingga menyebabkan conjunctivitis dan opthalmitis.
b. Syngamus trakhea memiliki ukuran lebih dari 2 cm, hidup di dalam trakhea dan kadang-kadang pada bronkhus. Apabila hidup di darah akan menyebabkan trakheitis diffuse atau fokal di tempat menempelnya. Gejala yang tampak seperti pernapasan cepat, dyspnoe dan head shaking.
c. Capillaria sp memiliki ukuran panjang lebih dari 6 cm, menginfeksi crop dan esophagus sehingga menyebabkan radang mukosa crop dan esophagus. Gejala yang ditimbulkan berupa anemia dan kelemahan.
d. Dyspharynx, Tetrameres, Cyrnea hidup di mukosa proventriculus dan sering penetrasi ke dalam kelenjar-kelenjar. Gejala umum yang ditimbulkan yaitu : diare, kelemahan dan anemia yang disertai dengan ulserasi mukosa, hemorrhagi, nekrosis, pembengkakan mukosa.
e. Cheilospirura dan Omidostomum dewasa berukuran antara 1-4 cm dan menyerang gizzard sehingga mengalami ulserasi dan nekrosis muskulus gizzard.
f.  Ascaridia sp. kebanyakan menyerang organ usus yaitu usus halus. Salah satu contoh spesies yang sering menyerang ayam adalah Ascaridia galli. Ascaridia galli mempunyai ciri-ciri berwarna putih, bentuk bulat, tidak bersegmen dan panjang 6 - 13 cm. Anak ayam lebih peka daripada ayam dewasa dan White Leghorn merupakan ras paling peka dibandingkan ayam ras yang lain. Gejala klinis yang ditimbulkan misalnya mencret berlendir, selaput lendir pucat, pertumbuhan terhambat, kekurusan dan penurunan produksi telur.
g.  Heterakis gallinarum merupakan jenis nematoda yang menyebabkan blackhead pada ayam, karena ovum cacing bisa mengandung protozoa yang disebut Histomonas meleagridis. Cacing ini berukuran panjang 1,5 cm dan hidup dalam sekum, sehingga menyebabkan radang sekum dan nodul-nodul kecil di dinding sekum.

2.    Cestoda
Cestoda atau cacing pita memiliki 3 segmen yaitu kepala, leher dan badan serta bersifat hermaprodit yaitu adanya sel kelamin jantan dan betina dalam badannya. Jenis cestoda di antaranya adalah Raillietina spp., dan Davainea sp. Raillietina sp. memiliki 3 spesies yaitu Raillietna tetragona, Raillietina echinobothrida dan Raillietina cesticillus.
Infeksi cestoda lebih luas tingkat penyebarannya daripada infeksi nematoda dan trematoda. Penyebarannya dapat melalui feses maupun alat-alat perkandangan dan sangat dipengaruhi oleh inang antara. Masing-masing spesies mempunyai inang antara yang berbedabeda. Raillietina tetragona menggunakan semut dari genus tetramorium dan Pheidole serta lalat Musca domestica sebagai inang antara. Raiilietina echinobothrida menggunakan inang antara semut jenis yang sama dengan Raiilietina tetragona. Sedangkan Raillietina cesticillus mempunyai inang antara berupa kumbang dan lalat Musca domestica.
Telur cacing Cestoda yang termakan oleh inang antara akan menetas di dalam saluran pencernaannya kemudian berkembang menjadi onkosfir. Onkosfir yaitu telur yang telah berkembang menjadi embrio banyak sel yang dilengkapi dengan 6 buah kait. Onkosfir selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam waktu 3 minggu setelah telur termakan oleh inang antara. Sistiserkoid tetap tinggal di dalam tubuh inang tersebut kemudian dimakan oleh inang definitif yaitu ayam.
Setelah ayam memakan inang antara yang mengandung sistiserkoid, maka sistiserkoid terbebaskan oleh adanya aktivitas enzim pencernaan. Segera setelah sistiserkoid bebas, skoleksnya mengalami evaginasi dan melekatkan diri pada dinding usus. Segmen muda terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi segmen yang matang dalam waktu 3 minggu. Pada saat segmen atau strobila berproliferasi di dinding leher, dinding sistiserkoid akan mengalami degenerasi dan menghilang. Selanjutnya sistiserkoid berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus ayam dalam waktu 20 hari.
Sedangkan jenis Davainea sp. mempunyai kait berjumlah banyak dan hanya tersusun dari sedikit segmen. Davainea proglottina merupakan salah satu contoh cacing kelompok ini. Cacing ini terdapat pada duodenum ayam, dengan panjang 0,5-3 mm dan mempunyai 4-9 proglotida. Kait pada rostelum lebih panjang daripada pada alat penghisap, sehingga tidak mudah lepas. Larva berkembang pada induk semang antara dalam 2-4 minggu, sedangkan bentuk dewasa mulai meletakkan telur pada ayam terinfeksi sekitar 2 minggu. Induk semang antaranya adalah siput. Siklus hidup dari cacing ini biasanya terdiri dari telur, stadium larva dalam induk semang antara, dan dewasa dalam vertebrata.
Gejala umum yang terjadi akibat serangan cestoda adalah hilangnya nafsu makan, anemia, diare, kekerdilan dan berakibat pada penurunan bobot badan maupun penurunan produksi telur pada ayam layer. Jika jumlah cacing dalam saluran pencernaan semakin banyak maka dapat manimbulkan hypoglicemia dan hypoproteinemia.

3.    Trematoda
Cacing trematoda hidup dalam rektum dan sekum. Jenis spesies yang paling terkenal adalah Echonostoma revolutum. Hewan yang diserang antara lain ayam, itik, angsa dan unggas air lainnya, burung merpati dan berbagai burung lain serta mamalia, termasuk tikus air bahkan manusia. E. Revolutum memiliki panjang kira-kira 10 – 12 mm dan lebar 2,25 mm. Inang antara spesies cacing ini yaitu siput antara lain Stagnicola palustris, Helisoma trivolvis, Physagyrina coccidentalis, P. oculans, Planorbis tenuis, Lymnaeastagnalis, L. swinhoei, Bulimus stagnicola dan Lymnaea rubiginosa. Inang definitif akan terinfeksi apabila memakan siput ini dan cacing akan berkembang menjadi dewasa di dalam saluran pencernaan tubuh inang dalam jangka waktu 15 – 19 hari. Infeksi yang berat menyebabkan kekurusan, kelemahan dan diare pada unggas.

Pencegahan
Upaya pencegahan helminthiasis dilakukan dengan cara :
a.   sanitasi kandang dengan desinfektan,
b.   menghindarkan kandang dari vektor (induk semang antara) dan ternak liar,
c.  

 pengelolaan peternakan sebaik mungkin, seperti mencegah kepadatan kandang yang berlebihan, mengusahakan ventilasi kandang yang cukup dan menerapkan sistim all in all out.

Pengobatan
Pengobatan terhadap cacing harus dilakukan sejak awal. Peternak harus jeli dalam melihat dan mengamati adanya gejala ayam terserang parasit cacing. Jika keadaan ayam sudah parah akibat banyaknya populasi cacing dalam tubuh ayam maka pengobatan menjadi sia-sia. Sebelum memilih obat, para peternak harus melakukan diagnosis terlebih dahulu yaitu dengan menemukan cacing, telur atau larva cacing dalam tinja, sputum, darah ataupun pada jaringan yang lain. Sebagian besar obat cacing hanya efektif terhadap satu macam kelompok cacing saja, jadi diagnosis sebelum pengobatan mutlak diperlukan.
Pada ayam yang dipelihara dalam kandang postal maka pemberian obat cacing bisa dilakukan mulai umur satu bulan dan diulang setiap bulan sekali. Sedangkan pada ayam yang dipelihara di kandang baterai pemberian obat cacing diberiakan setiap tiga bulan sekali. Pemberian obat cacing akan lebih efektif jika diberikan dua hari berturut-turut. Ayam dipuasakan terlebih dahulu kira-kira selama satu jam sebelum pemberian obat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " MENGENAL PENYAKIT CACING PADA AYAM"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.