Pola Peternakan Ayam Lokal

Pola Peternakan Ayam Lokal




Sejak dahulu ayam lokal sangat akrab di kalangan masyarakat Indonesia, terkadang ayam lokal ini menjadi bagian terpenting dalam hidup masyarakat. Seperti namanya, ayam lokal sejak dulu hidup di perkampungan yang dipelihara oleh saudara-saudara kita yang tinggal di desa. Pola pemeliharaan yang mereka lakukan masih secara tradisional dengan diumbar di halaman rumah, lahan-lahan pertanian, perkebunan bahkan kolam.
Bentuk kandang yang sangat terbatas, berupa kandang-kandang bambu yang berfugsi sebagai tempat penampungan mereka pada waktu malam hari. Sebagian lagi mereka berteduh di kolong rumah, kandang sapi atau domba, bahkan di atas pohon. Dengan kondisi seperti ini, ayam lokal tetap dimanfaatkan sebagai sumber pangan daging dan telur rumah tangga.
Tentunya perbaikan mutu genetik yang telah dilakukan saat ini, harus pula diiringi dengan pola pemeliharaan yang lebih baik. Seperti yang dipaparkan oleh Direktur Budidaya Ternak Ditjen PKH, menurutnya pola pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak ada 3 macam yaitu: 1) Ekstensif, dengan diumbar sepanjang hari tanpa tambahan pakan, tidak disediakan kandang, tempat pakan, tempat minum, juga tidak ada tindakan biosekuriti dan program kesehatan, 2) Semi Intensif, kandang yang disediakan hanya berfungsi sebagai tempat bernaung malam hari dan pengumbaran tetap dilakukan, 3) Intensif, ayam dikandangkan dan diberi makan dan minum dalam jumlah cukup. Vaksinasi diberikan secara terencana demikian juga biosekuriti.
“Tetapi, dengan kondisi pakan jadi yang cukup mahal, sepertinya pola beternak semi intensif yang paling tepat. Di mana ayam juga diumbar sehingga untuk pakan tidak terlalu tergantung,” jelas Fauzi.
Pola intensif
Akan tetapi, saat ini perbaikan pola peternakan menuju yang intensif juga telah dilakukan oleh beberapa peternak yang dikunjungi tim majalah Poultry Indonesia beberapa waktu lalu. Jika berkaca dari sejarah tentang peternakan ayam lokal di Indonesia, perubahan ini mulai terjadi pada 6 tahun yang silam.
Menurut ketua Himpuli, sejak tahun 2006 minat masyarakat untuk beternak ayam lokal pola intensif mulai meningkat, seiring tingginya permintaan ayam lokal, khususnya di kota-kota besar. Namun tingginya minat masyarakat tersebut belum diimbangi dengan pasokan bibit (DOC), khususnya DOC yang berkualitas dari pembibit yang menjalankan Good Breeding Practice (GBP).
“Saat itu hanya ada satu pembibit yang mampu memproduksi dalam jumlah besar untuk ukuran ayam lokal, yang berlokasi di Cipanas, Jawa Barat,” lansirnya. Hanya saja, pembibitan tersebut belum menerapkan GBP serta tidak melakukan seleksi genetika ayam asli. Sedangkan di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur telah bermunculan pembibit-pembibit skala peternakan rakyat yang juga masih tradisional, walau sudah menggunakan mesin tetas semi otomatis skala kecil.
Barulah pada 2012 ada pembibit yang menjalankan Good Breeding Practice sesuai Permentan No.49/OT.140/10/2006 (Pedoman Pembibitan Ayam Lokal Yang Baik), seperti UNGGUL Pusat Pembibitan Ayam Lokal.
Pembibit ini juga melestarikan dan mengembangkan sumber daya genetika ayam asli Indonesia (Ayam Sentul-ayam asli Indonesia asal Ciamis). UNGGUL yang status usahanya kelompok, merupakan pilot project Himpuli dalam usaha pembibitan. Produksi Unggul sudah didistribusikan ke-16 provinsi dari Sumatra sampai Papua.
Sejak 2007 sampai sekarang Himpuli terus mendorong masyarakat untuk beternak ayam lokal asli dan itik asli Indonesia dengan pola intensif. Sosialisasi terus dilakukan melalui berbagai media. Himpuli juga bersinergi dengan pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, misalnya melakukan pertemuan intensif, memberikan informasi tentang ternak dan peternak unggas lokal.
Pemerintah, lanjutnya, memberikan dukungan untuk pengembangan budidaya unggas lokal melalui Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia (BTNR), baik untuk dukungan usaha maupun kelembagaan peternak. Dukungan usaha yang diberikan adalah dana hibah untuk kegiatan Village Poultry Farming/Budidaya Unggas di pedesaan, integrasi pertanian dan ternak unggas lokal, bantuan alat-alat dan mesin, zoning usaha perunggasan serta kawasan Agribisnis Unggas Lokal.
Setelah Direktorat BTNR dilebur ke dalam Direktorat Budidaya Ternak, dukungan tersebut masih berlanjut. “Himpuli berharap dukungan pemerintah juga datang dari yang spesifik menangani perbibitan,” harapnya.
Jaga Performa
Di samping kelebihannya, ayam lokal juga memiliki kekurangan yang juga diakui oleh banyak pihak seperti, pertumbuhan yang lambat dan pertambahan berat badan harian yang juga lambat. “Artinya, konversi pakan tinggi tetapi produksi telur sedikit,” ungkap Mirni Lamid dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.
Kondisi ini pernah diteliti oleh Mirni. Dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Sistem Pemeliharaan Semi Intensif dan Pemeliharaan Intensif terhadap Produksi Telur Ayam Buras” Mirni berpendapat bahwa, performa ayam lokal yang seperti itu disebabkan oleh karena manajemen sistem pemeliharaan ekstensif tradisional yang tidak memungkinkan ayam memperoleh zat makanan yang sesuai kebutuhan.
Dia juga menyatakan bahwa produksi telur yang maksimal dapat diperoleh dengan sistem pemeliharaan intensif dan sistem semi intensif. Adapun, lanjutnya, jumlah produksi telur yang tinggi didapat pada sistem pemeliharaan intensif. “Oleh karena itu, sebaiknya peternak memperbaiki aspek manajemen dengan sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif,” katanya. Selain manajemen yang baik, Mirni juga menyatakan bibit yang unggul sangat diperlukan untuk mendongkrak performa ayam lokal.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu pengusaha pembibitan di Bekasi ini. Untuk mendapatkan bibit yang unggul, dalam mengembangkan populasinya, Bambang Krista, Citra Lestari farm, terus menggunakan teknologi penetasan yang modern dan juga telah menggunakan metode Inseminasi Buatan atau yang sering dikenal dengan kawin suntik.
Sehingga, banyak keuntungan yang bisa diperolehnya, selain indukan yang berkualitas terus terjaga, lahan untuk pengembangan bisnis bisa diminimalisir. “Luas kandang tidak sebesar dengan kawin alam,” lansirnya. Dengan kandang ukuran 8 x 50 meter, lanjutnya, bisa memproduksi DOC sekitar 8.000 ekor per minggu. Kelebihan lain, pejantan bisa lebih hemat. Menurutnya, 1 ekor pejantan dari pejantan yang unggul bisa menghasilkan sel sperma untuk membuahi sebanyak 40 ekor betina yang unggul.
Pakan dan kesehatan
Selain bibit yang unggul, manajemen pemeliharaan yang intensif ternyata juga menjadi hal yang utama dalam peternakan ayam lokal. Situasi ini sama halnya dengan ayam broiler maupun layer.
Mahalnya pakan pastinya akan sangat mempengaruhi peternak kecil dan akhirnya peforma ayam tidak maksimal, semua akan jauh dari harapan. Namun, untuk mengurangi kerugian yang terlalu tinggi dan performa terus terjaga, Bambang Krista di setiap pelatihan yang dilakukan bersama peternak selalu memberikan saran bahwa, untuk bertahan dari permasalahan pakan diperlukan efisiensi.
Menurutnya, selama pemeliharaan ayam lokal pedaging jangan selalu diberi asupan pakan pabrikan. Pasalnya, selain harga pakan yang mahal juga akan mempengaruhi rasa daging ayam itu sendiri. “Sejak DOC hingga umur 30 hari dapat menggunakan pakan pabrikan,” sarannya.
Karena, lanjutnya, ini merupakan masa pertumbuhan dan dibutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi yang lengkap. Umur di atas 30 hari, lanjutnya,diberi pakan adukan sendiri. Karena dengan adukan sendiri, diharapkan terjadi efisiensi dan rasa daging lebih baik. “Pembuatan pakan sendiri bisa dengan menggunakan sumberdaya alam yang ada,” tegasnya. Setelah diaduk, peternak bisa membawa ke laboratorium pakan untuk mengetahui kandungan gizi dari pakan tersebut, seperti kandungan protein.
Memberikan pakan tambahan diharapkan dapat memberikan peningkatan terhadap performa ayam. Titi Bartati salah seorang peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universita Airlangga, juga pernah meneliti tentang upaya alternatif yang mampu mendongkrak performa ayam lokal. Dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Kenzime sebagai Pakan Tambahan terhadap Penampilan dan Biometri Usus Halus Buras” menyimpulkan bahwa dengan pemberian enzim kadar 0,05 persen dan 0,1 persen dalam pakan mampu meningkatkan secara nyata terhadap pertambahan bobot badan dan konversi pakannya menjadi baik. Tidak hanya itu, pengaruh positif terhadap daya cerna dan konversi pakan guna peningkatan performa dan produksi ayam buras, juga akan didapat.
Dalam usaha peternakan ayam lokal, menjaga kesehatan ayam juga menjadi hal utama untuk capai keberhasilan. Hal yang paling utama menurut beberapa peternak modern yaitu vaksinasi dan penerapan biosekuriti.
Untuk program vaksinasi, telah menjadi keharusan bagi pengusaha pembibitan, seperti vaksin Marek untuk indukan. Tidak hanya itu, program vaksinasi ND, Gumboro dan AI juga perlu diperhatikan. Paket vaksinasi yang diterapkan menurut Budi, Trias Farm, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan.
Sudah bisa dipastikan, hampir di semua pengusaha ayam lokal saat ini menerapkan biosekuriti. Penerapan biosekuriti memang dirasakan perlu untuk diterapkan, penyemprotan dengan desinfektan 2 kali dalam seminggu, pembatasan tamu yang berkunjung dengan memasang plang peringatan keluar masuknya tamu, merupakan hal yang harus diterapkan. Penggunaan obat-obatan yang berkualitas juga telah menjadi pilihan peternak ayam lokal.
Pergeseran pola peternakan ayam lokal di Indonesia terus saja terjadi, penggunaan peralatan yang modern, seperti mesin tetas otomatis di hatchery, pola pemeliharaan yang semi intensif hingga intensif, program kesehatan dengan melakukan program vaksinasi, penggunaan obat-obatan yang berkualitas hingga penerapan biosekuriti.
Sikap nyata ini, bukannya tidak beralasan. Pasalnya, selain untuk terus mengembangkan ayam lokal Nasional, potensi bisnis ayam lokal ini masih besar, dengan terus bertambahnya penduduk, membaiknya perekonomian di Indonesia menjadi peluang yang tidak bisa diabaikan. Kebutuhan akan protein hewani dari ayam lokal, akan terus tumbuh. Selain rasa yang enak, faktor kebiasaan dan budaya juga mendukung perkembangan bisnis ini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pola Peternakan Ayam Lokal"

Post a Comment

semoga bisa bermanfat.